RAGAM BAHASA– Di balik hamparan sawah hijau dan perbukitan yang asri di Desa Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, tersimpan jejak sejarah panjang yang tak banyak diketahui publik. Kampung Lio, yang kini tampak tenang dan damai, pernah menjadi lokasi kamp latihan perang tentara Hindia Belanda pada masa kolonial.

Kawasan ini dipilih sebagai tempat latihan militer karena kondisi geografisnya yang dinilai strategis. Kontur tanah yang berbukit, aliran Sungai Cimandiri, serta lanskap alam yang menyerupai medan tempur menjadikan Kampung Lio ideal untuk simulasi peperangan.

Kamp Latihan Militer

Dalam sejumlah catatan sejarah, Kampung Lio beberapa kali dijadikan lokasi latihan militer Belanda. Latihan tersebut bahkan disebut-sebut digelar secara besar-besaran menjelang Perang Dunia II sebagai persiapan menghadapi ekspansi Jepang di Asia.

Simulasi perang dilakukan dengan skenario penyerangan dari desa ke desa. Pasukan ditempatkan di titik-titik strategis seperti Bukit Pamipiran, kaki Gunung Cipadung, hingga bantaran Sungai Cimandiri. Menariknya, latihan ini juga menjadi tontonan pejabat penting saat itu. Tribun khusus disediakan bagi para pejabat pemerintahan dan perwira militer yang hadir menyaksikan jalannya simulasi.

Pernah Dilalui Tokoh Dunia

Selain menjadi lokasi latihan militer, Kampung Lio juga berada di jalur strategis yang kerap dilintasi pejabat dan tokoh dunia pada masa kolonial. Jalur kereta api yang melintasi kawasan tersebut membuat sejumlah tokoh internasional menikmati panorama alam Sukabumi.

Beberapa nama yang disebut pernah melintasi kawasan ini antara lain Eliza R. Scidmore, William Worsfold, Raja Thailand, Pangeran Austria Franz Ferdinand, hingga Mata Hari. Keindahan alam Sukabumi pada masa itu dikenal luas hingga mancanegara.

Saksi Peralihan Kekuasaan

Kampung Lio turut menjadi saksi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Saat Jepang melancarkan serangan ke wilayah Hindia Belanda, Sukabumi termasuk daerah yang terdampak. Serangan udara dan pertempuran terjadi di sejumlah titik, meninggalkan jejak sejarah kelam di kawasan tersebut.

Meski waktu terus berjalan dan generasi berganti, kisah masa perang itu tetap melekat dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.

Potensi Wisata Sejarah

Kini, Kampung Lio lebih dikenal sebagai kawasan pedesaan dengan panorama alam memikat. Hamparan sawah, udara sejuk, serta suasana yang tenang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Dengan nilai sejarah yang dimilikinya, Kampung Lio berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah edukatif. Pengelolaan yang tepat dapat menjadikan kawasan ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan narasi sejarah perjuangan dan dinamika masa kolonial di Indonesia.

Kampung Lio menjadi pengingat bahwa di balik keindahan alam Sukabumi, tersimpan cerita panjang tentang strategi militer, peralihan kekuasaan, dan perjalanan sejarah bangsa.

(NAUVAL)