RAGAM BAHASA-Ajag atau anjing hutan Asia merupakan salah satu satwa liar khas yang masih bertahan di sejumlah kawasan hutan Indonesia. Hewan bernama ilmiah Cuon alpinus ini termasuk dalam famili Canidae dan ordo Carnivora, serta dikenal luas di berbagai negara dengan sebutan dhole atau Asiatic wild dog.
Secara global, ajag tercatat sebagai salah satu predator karnivora terbesar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Meski kerap disangka anjing liar biasa, ajag memiliki karakteristik fisik dan perilaku yang sangat berbeda, terutama dalam pola hidup dan strategi berburunya.
Ciri Fisik yang Mendukung Perburuan
Ajag memiliki tubuh ramping namun berotot, dengan panjang tubuh rata-rata sekitar 90 sentimeter dan ekor sepanjang 40–45 sentimeter. Bobotnya berkisar antara 17 hingga 21 kilogram, sedikit lebih kecil dibandingkan anjing German Shepherd.
Bulu ajag didominasi warna cokelat kemerahan dengan bagian punggung yang cenderung lebih gelap. Telinganya tegak dan relatif besar, berfungsi menangkap suara mangsa dari jarak jauh di tengah rimbunnya hutan. Struktur giginya pun dirancang khusus untuk membantu merobek daging, menjadikannya pemburu yang efisien.
Kaki yang panjang dan kuat memungkinkan ajag berlari cepat serta bertahan dalam pengejaran jarak jauh saat memburu mangsa.
Hidup Berkelompok dan Strategi Berburu
Berbeda dari banyak predator lain yang cenderung soliter, ajag hidup dalam kelompok sosial yang disebut pack. Dalam satu kelompok biasanya terdapat betina dominan yang memimpin dan mengatur dinamika kawanan.
Anggota kelompok bekerja sama dalam berburu serta berbagi peran dalam merawat anak-anak. Pola asuh kolektif ini meningkatkan peluang bertahan hidup anak ajag hingga cukup dewasa untuk ikut berburu.
Strategi berburu ajag mengandalkan kerja tim. Mereka mampu menjatuhkan mangsa berukuran lebih besar, seperti rusa dan babi hutan, melalui pengejaran terkoordinasi. Kemampuan ini membuat ajag menjadi salah satu predator penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Dalam aktivitas hariannya, ajag cenderung menghindari manusia dan lebih aktif pada pagi maupun senja hari, khususnya di kawasan hutan yang masih relatif alami.
Persebaran di Indonesia dan Asia
Di Indonesia,
ajag memiliki dua subspesies utama. Di Pulau Jawa dikenal sebagai Cuon alpinus javanicus, yang dapat ditemukan di sejumlah taman nasional seperti Alas Purwo, Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun Salak, Ujung Kulon, dan Baluran.
Sementara itu, di Sumatera terdapat subspesies Cuon alpinus sumatrensis yang hidup di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
Secara historis, ajag pernah tersebar luas di berbagai wilayah Asia, termasuk daerah yang kini tidak lagi memiliki populasi, seperti Mongolia dan Korea Utara. Namun saat ini, keberadaannya semakin terfragmentasi dan terbatas pada wilayah yang berdekatan dengan hutan lebat dan kawasan konservasi di negara-negara seperti India, Nepal, Bhutan, Thailand, dan Laos.
Terancam oleh Hilangnya Habitat
Populasi ajag terus mengalami penurunan signifikan.
Ancaman utama yang dihadapi satwa ini adalah hilangnya habitat akibat deforestasi, fragmentasi kawasan hutan, serta konflik dengan manusia.
Menyusutnya wilayah jelajah membuat ajag semakin sulit mendapatkan mangsa dan meningkatkan risiko pertemuan dengan aktivitas manusia. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi satwa liar di Asia, termasuk di Indonesia.
Keberadaan ajag bukan hanya penting sebagai predator puncak, tetapi juga sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan.
Upaya perlindungan habitat dan penguatan kawasan konservasi menjadi langkah krusial agar satwa liar ini tetap bertahan di alam bebas.
(EGOL)
