RAGAM BAHASA– Fenomena astronomi langka berupa Gerhana Matahari Cincin atau “Cincin Api” akan terjadi pada 17 Februari 2026. Peristiwa ini terjadi saat Bulan berada di titik terjauh dari Bumi (apogee), sehingga ukurannya tampak lebih kecil dan tidak menutupi seluruh piringan Matahari. Akibatnya, terbentuk lingkaran cahaya terang di tepi Matahari yang menyerupai cincin api.

Berdasarkan laporan National Geographic Indonesia dan tinjauan akademis dari Universitas Negeri Malang (UNIKMA), jalur utama gerhana kali ini melintasi wilayah ekstrem yang minim penduduk.

Jalur “Cincin Api”

Fase cincin sempurna hanya dapat disaksikan di jalur antumbra yang mayoritas melintasi:
Antarktika, termasuk area stasiun riset seperti Concordia Station dan Mirny Station.
Samudra Selatan, di sekitar kawasan kutub selatan.
Wilayah tersebut menjadi lokasi terbaik untuk melihat cincin api secara utuh.

Wilayah Gerhana Sebagian

Di luar jalur utama, gerhana hanya terlihat sebagian, dengan Matahari tampak seperti “tergigit”. Wilayah yang terdampak antara lain:
Afrika bagian selatan, termasuk Cape Town, Afrika Selatan.
Amerika Selatan bagian selatan, seperti Chile dan Argentina bagian selatan.

Sebagian perairan Samudra Hindia dan Samudra Atlantik selatan.
Indonesia Tidak Terdampak
Indonesia tidak termasuk dalam jalur lintasan gerhana. Secara geografis, posisinya terlalu jauh di utara dari bayangan Bulan yang menyapu kutub selatan. Selain itu, puncak gerhana diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.12 WIB, saat Matahari telah terbenam di sebagian besar wilayah Indonesia.

Meski tak dapat disaksikan dari Tanah Air, fenomena ini tetap menjadi momen penting dalam kalender astronomi global, sekaligus pengingat akan dinamika pergerakan Bumi dan Bulan yang terus berlangsung secara presisi di tata surya.

(HARDIYANA)