RAGAM BAHASA– Kematian seorang anak laki-laki berinisial NS (12), warga Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi perbincangan luas di media sosial. Beredarnya video kondisi korban saat dirawat di rumah sakit memunculkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai penyebab meninggalnya bocah tersebut.
NS, yang akrab disapa Raja, diketahui tinggal di Kampung Talagasari, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon. Dalam rekaman yang tersebar di sejumlah grup WhatsApp dan Facebook warga Pajampangan, terlihat korban tengah menjalani perawatan medis dengan sejumlah luka di tubuhnya. Video tersebut juga memperlihatkan pendampingan dari Ketua Yayasan Forum Silaturahmi Barisan Benteng Pajampangan (YFSBBP), Isep Dadang Sukmana, terhadap pihak keluarga di rumah sakit.
Sementara itu, Dokter Puskesmas Jampangkulon, Adi Yusuf, menjelaskan bahwa korban sebelumnya sempat berobat pada 6 Februari 2026 dengan keluhan demam, batuk, pilek, serta nyeri ulu hati. Berdasarkan pemeriksaan saat itu, korban didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
“Pasien datang dengan gejala demam dan batuk pilek. Kami memberikan obat sesuai indikasi seperti paracetamol, vitamin, antasida, dan obat batuk. Tidak ada riwayat penyakit sebelumnya berdasarkan data yang tercatat,” ujar Adi Yusuf.
Ia juga menyebutkan, dari rekam medis elektronik, kunjungan tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan korban ke Puskesmas Jampangkulon, dengan alamat tercatat di Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade.
Untuk memastikan penyebab kematian, jenazah korban telah dibawa ke RS Bhayangkara Secapa guna menjalani autopsi. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membenarkan bahwa pihaknya tengah mendalami kasus tersebut. Menurutnya, kepolisian masih menunggu hasil autopsi sebelum menyimpulkan penyebab kematian.
“Kami masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab meninggalnya korban, termasuk menelusuri dugaan yang berkembang di masyarakat,” kata Hartono, Jumat (20/2/2026).
Pihak keluarga berharap proses penyelidikan dapat berjalan transparan dan menyeluruh agar penyebab pasti kematian NS dapat terungkap secara jelas. Polisi mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi sebelum hasil resmi autopsi diumumkan.
(EGOL)
