RAGAM BAHASA– Kebiasaan kurang bergerak atau “mager” masih mendominasi gaya hidup masyarakat ibu kota. Hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 mencatat sebanyak 93 persen warga Jakarta tergolong kurang melakukan aktivitas fisik dan masuk kelompok berisiko penyakit kronis.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengungkapkan bahwa temuan paling menonjol berasal dari faktor risiko penyakit kardiovaskular. Obesitas sentral dan minimnya aktivitas fisik menjadi dua indikator utama yang banyak ditemukan dalam pemeriksaan.
Menurutnya, CKG dirancang sebagai langkah deteksi dini untuk menekan potensi penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung, sekaligus mengidentifikasi penyakit menular tertentu. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, hingga pemeriksaan kesehatan gigi.
Peserta yang terindikasi memiliki masalah kesehatan akan dirujuk untuk penanganan lanjutan.
Sepanjang 2025, sebanyak 4.202.586 warga atau sekitar 37,5 persen dari total target telah mengikuti program tersebut. Sementara pada awal 2026 hingga 11 Februari, tercatat 146.727 orang sudah menjalani pemeriksaan.Secara nasional, Kementerian Kesehatan menargetkan 130 juta masyarakat mengikuti CKG pada 2026, meningkat dibanding target 70 juta orang pada tahun sebelumnya.
Selain persoalan kurang gerak, hasil CKG juga menunjukkan 74 persen peserta mengalami dislipidemia atau ketidaknormalan kadar lemak darah. Tak hanya itu, 51 persen peserta tercatat memiliki masalah kesehatan gigi.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Dinkes DKI Jakarta memperluas upaya promotif dan preventif, termasuk edukasi gaya hidup sehat serta peningkatan skrining faktor risiko penyakit tidak menular. Saat ini, layanan CKG tersedia di 44 puskesmas yang tersebar di enam wilayah kota Jakarta.
Kurangnya aktivitas fisik diketahui berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolisme. Kebiasaan duduk dalam waktu lama membuat pembakaran kalori menurun, memicu kenaikan berat badan, serta mengganggu keseimbangan hormon pengatur nafsu makan. Sejumlah penelitian juga mengaitkan gaya hidup sedentari dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.
Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup aktif, seperti rutin berjalan kaki, berolahraga ringan, dan mengurangi waktu duduk terlalu lama, guna menekan risiko penyakit kronis di masa mendatang.
(REKSA)
