RAGAM BAHASA– Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali erupsi pada Selasa (24/2) petang. Letusan terjadi pukul 17.36 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 3.000 meter di atas puncak atau 6.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, mengatakan pihaknya langsung meningkatkan kesiapsiagaan setelah menerima laporan dari pos pengamatan. “Kami telah menginstruksikan relawan dan perangkat desa di wilayah rawan bencana untuk memantau perkembangan aktivitas Semeru secara intensif. Warga diminta tetap tenang, namun tidak mengabaikan rekomendasi resmi,” ujarnya saat dikonfirmasi di Lumajang.

Menurut data yang dihimpun BPBD, kolom abu berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas tebal mengarah ke tenggara. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 2 menit 25 detik.

Sebelumnya, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu juga mengalami erupsi pada pukul 01.51 WIB. Letusan dini hari tersebut disertai awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 3.000 meter ke arah tenggara atau kawasan Besuk Kobokan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa status aktivitas vulkanik Semeru masih berada pada Level III (Siaga). “Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak. Selain itu, radius lima kilometer dari kawah harus steril dari kegiatan warga,” katanya.

Ia juga mengingatkan potensi bahaya susulan berupa awan panas, guguran lava, serta lahar, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

BPBD bersama TNI-Polri dan relawan setempat terus melakukan patroli dan sosialisasi di desa-desa rawan terdampak abu vulkanik. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa maupun pengungsian, namun warga diminta menyiapkan masker dan perlengkapan darurat sebagai langkah antisipasi.

(FIKRI)