RAGAM BAHASA-Kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan memasuki periode suhu tinggi yang melampaui kondisi normal dalam beberapa bulan ke depan. Indonesia bersama Malaysia disebut menjadi wilayah yang paling awal merasakan dampaknya.
Mengacu pada laporan terbaru dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), peluang terjadinya suhu di atas rata-rata di kedua negara tersebut mencapai 80 hingga 100 persen sepanjang Maret hingga Mei 2026. Fenomena ini diperkirakan akan meluas ke wilayah daratan Asia Tenggara dalam waktu dua bulan berikutnya.
Wilayah dengan populasi lebih dari 500 juta jiwa ini berpotensi mengalami tekanan cuaca signifikan, terutama saat memasuki puncak panas pada April hingga Mei.
Selain Indonesia dan Malaysia, kondisi serupa juga diprediksi terjadi di sebagian wilayah Thailand dan Vietnam bagian utara. Sementara itu, kawasan seperti Vietnam bagian tenggara, Kamboja, dan sebagian Filipina diperkirakan masih berada pada kisaran suhu normal.
Di sisi lain, meningkatnya suhu udara ini terjadi beriringan dengan dinamika global yang memanas, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan tersebut berdampak pada terganggunya rantai pasok energi dunia, yang kemudian memicu kenaikan harga energi.
Apabila kondisi ini berlanjut, negara-negara di Asia Tenggara yang masih mengandalkan energi fosil berpotensi menghadapi tantangan dalam penyediaan listrik, terutama saat kebutuhan meningkat akibat suhu panas ekstrem.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberikan penjelasan terkait suhu panas yang belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.
BMKG menegaskan bahwa panas terik yang terjadi bukan disebabkan oleh datangnya musim kemarau lebih awal, melainkan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer pasca hujan deras. Setelah curah hujan tinggi, langit cenderung cerah sehingga radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan awan.
Kelembapan udara yang masih tinggi juga memperparah sensasi panas, membuat suhu terasa lebih gerah dibandingkan angka sebenarnya.
Lebih lanjut, BMKG menyebut kondisi ini masih termasuk dalam fase peralihan musim atau pancaroba. Dengan demikian, suhu panas yang dirasakan saat ini belum dapat dikategorikan sebagai gelombang panas secara ilmiah.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cukup ekstrem dalam beberapa waktu ke depan, terutama dalam menjaga kesehatan dan kebutuhan cairan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.
(EGOL)
