RAGAM BAHASA-Ketegangan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel meninggalkan ketakutan mendalam bagi anak-anak di Iran. Lebih dari 20 persen penduduk Iran atau sekitar 20,4 juta jiwa merupakan anak-anak yang kini menghadapi dampak psikologis dari konflik tersebut.
Seorang remaja berusia 14 tahun, sebut saja Reza, mengaku masih merasakan ketakutan meski situasi mulai mereda. Ia mengatakan suara keras seperti pintu dibanting atau benda jatuh membuatnya langsung panik.
“Kalau ada suara keras, saya langsung takut. Saya pikir itu ledakan lagi,” ujar Reza kepada media lokal, Minggu (12/4/2026).
Reza juga mengaku sulit tidur sejak serangan terjadi. Ia kerap terbangun di malam hari karena mimpi buruk tentang perang.
Hal serupa diungkapkan oleh seorang ibu di Teheran, Maryam (38), yang mengatakan anaknya menjadi lebih pendiam sejak konflik meningkat. Ia menyebut anaknya kini enggan bermain di luar rumah.
“Anak saya sekarang tidak mau keluar rumah. Dia takut kalau ada pesawat terbang lewat,” katanya.
Psikolog anak dari Universitas Teheran, Dr. Hossein Karimi, menjelaskan bahwa trauma akibat konflik bersenjata dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan anak.
“Anak-anak sangat rentan terhadap trauma perang. Ketakutan, kecemasan, hingga gangguan tidur bisa berlangsung bertahun-tahun jika tidak ditangani dengan baik,” ujar Karimi.
Ia menambahkan, meski gencatan senjata tercapai, dampak psikologis tidak serta-merta hilang. Anak-anak membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan, serta bantuan profesional untuk pulih.
Organisasi kemanusiaan juga mengingatkan bahwa kondisi mental anak-anak harus menjadi perhatian utama. Mereka menilai konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu pendidikan dan perkembangan emosional generasi muda Iran.
“Yang paling kami khawatirkan bukan hanya dampak saat ini, tetapi bagaimana trauma ini memengaruhi masa depan mereka,” kata seorang pekerja kemanusiaan setempat.
Meski situasi relatif lebih tenang, bayang-bayang perang masih menghantui banyak anak di Iran. Bagi mereka, gencatan senjata belum cukup untuk menghapus rasa takut yang sudah terlanjur tertanam.
(FIKRI)
