RAGAM BAHASA – Persoalan sampah kembali menjadi perhatian di Kabupaten Sukabumi. Kali ini, tumpukan sampah ditemukan di sejumlah titik kawasan Gunung Kendeng yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Temuan tersebut diketahui warga Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, setelah sejumlah warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Gunung Kendeng. Bukannya hanya menemukan sampah dalam jumlah kecil, warga justru mendapati tumpukan sampah yang tersebar di sejumlah lokasi.
Kepala Dusun Cisarua, Saepul Bahri, mengatakan penemuan itu bermula ketika dirinya bersama sejumlah rekan melintasi kawasan tersebut.
“Pas lihat waktu lari pagi dari TNGHS sama teman-teman, ada kresek merah, hitam, sama karung besar-besar. Pas ditelusuri ternyata sampah semua,” kata Saepul saat diwawancarai, Senin (21/9/2026).
Warga kemudian melakukan penelusuran untuk mengetahui seberapa luas persoalan tersebut. Hasilnya, ditemukan sedikitnya 14 titik yang digunakan sebagai lokasi pembuangan sampah.
Menurut Saepul, jenis sampah yang ditemukan cukup beragam dan mayoritas merupakan limbah rumah tangga. Plastik, pampers, hingga berbagai kemasan menjadi bagian dari tumpukan yang berserakan di kawasan tersebut.
“Awalnya kita kira cuma satu lokasi. Setelah ditelusuri ternyata ada 14 titik. Yang banyak dikeluhkan itu sampah plastik sama pampers. Dari situ kita punya inisiatif bersama teman-teman untuk melakukan bersih-bersih,” ujarnya.
Aksi tersebut kemudian melibatkan sejumlah unsur masyarakat. Di antaranya Kepala Dusun Cisarua Saepul Bahri, Ketua BPD Cipeuteuy Dayat Hidayat, Ketua Barucis Dian Cahyadi, serta Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gampil) Adi Suryadi bersama anggota komunitas.
Kegiatan pembersihan telah dilakukan sebanyak empat kali. Namun, banyaknya volume sampah membuat proses pembersihan berjalan cukup berat.
Saepul menyebut, satu titik saja hingga kini belum sepenuhnya dapat dituntaskan.
“Baru empat kali kita bersih-bersih di situ. Satu titik lokasi saja belum beres. Kalau bersih-bersih tiap hari kemungkinan enam bulan juga belum tentu rampung, karena memang sampahnya banyak banget,” ungkapnya.
Sampah Belum Dibawa ke TPA
Persoalan lain muncul setelah sampah berhasil dikumpulkan. Warga belum memiliki tempat penampungan yang dapat digunakan untuk membawa seluruh sampah hasil pembersihan.
Untuk sementara, sampah dikumpulkan dan sebagian dibakar secara bertahap. Proses tersebut dilakukan dengan pengawasan untuk mengantisipasi munculnya persoalan baru, terlebih kondisi cuaca yang masih berpotensi kering.
Di sisi lain, warga menduga tidak seluruh sampah tersebut berasal dari masyarakat sekitar.
Dugaan itu muncul setelah warga menemukan sejumlah kemasan belanja daring yang masih menyisakan informasi pada resi pengiriman. Dari penelusuran warga, beberapa sampah disebut memiliki keterkaitan dengan wilayah di luar sekitar lokasi.
“Kita cari alamatnya, ternyata dari daerah luar. Ada dari Kabandungan, Kaladi, pokoknya jauh. Kalau orang sekitar, di Barucis sendiri sudah ada Gampil yang memberikan imbauan agar sampah dikumpulkan,” tutur Saepul.
Temuan lainnya juga mengarah pada dugaan sampah yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan atau wisata. Warga menemukan sejumlah karung berisi cangkang durian di kawasan tersebut.
Saepul menilai keberadaan limbah tersebut cukup janggal jika dikaitkan dengan aktivitas warga setempat karena di wilayah Cisarua tidak terdapat toko maupun warung buah.
“Di Cisarua itu tidak ada toko ataupun warung buah. Sekarang musim durian, ada beberapa karung cangkang durian. Itu tidak mungkin dari sini, entah dari pedagang atau kios sekitar kecamatan,” katanya.
Warga berharap persoalan tersebut mendapat perhatian lebih lanjut dari pihak terkait. Selain membersihkan sampah yang sudah terlanjur menumpuk, keberadaan sistem pengelolaan dan pengawasan sampah dinilai penting agar kawasan Gunung Kendeng tidak kembali menjadi lokasi pembuangan sampah liar.
Bagi warga, menjaga kawasan tersebut bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga upaya mempertahankan lingkungan di sekitar kawasan pegunungan yang menjadi bagian dari bentang alam Sukabumi.
(Egol)
