Sukabumi – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi terus melakukan inventarisasi terhadap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan langsung atau hanya terpengaruh oleh bencana sejak tahun 2024. Selain itu, mereka juga mencatat kondisi akses menuju sekolah untuk ditangani bersama instansi terkait.
Kepala Disdik Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, memberikan contoh kerusakan langsung seperti atap atau bangunan yang runtuh, sedangkan sekolah yang terpengaruh termasuk yang terkena banjir atau lumpur. “Angka pastinya perlu dicek data terlebih dahulu. Mayoritas hanya terpengaruh dampak. Kemudian, seperti jalan menuju sekolah yang rusak atau jembatan yang putus, itu yang paling umum. Untuk sekolah yang rusak langsung, seperti yang roboh, tidak ada. Kebanyakan akibat cuaca ekstrem,” kata Deden pada Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa pihaknya mulai menyusun tingkat prioritas untuk memperbaiki sekolah yang rusak atau terpengaruh bencana. Perbaikan akan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sukabumi, bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, atau anggaran pusat. Tahun ini, ada program pembaruan bangunan sekolah dari pemerintah pusat. “Jumlah Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Sukabumi lebih dari 1.200, dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) lebih dari 300,” ujarnya. Prioritas ditentukan berdasarkan data dari Dapodik, termasuk jumlah siswa. “Jika sekolah memiliki banyak murid tapi kekurangan ruang kelas, itu yang diprioritaskan,” tambah Deden.
Disdik Kabupaten Sukabumi telah mengkategorikan kerusakan sekolah menjadi ringan, sedang, dan berat. Fokus utama penanganan adalah ruang kelas, untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan proses belajar. “Kami merujuk pada jumlah siswa berdasarkan data Dapodik. Harus berdasarkan data. Intinya, kami berharap ada solusi cepat melalui APBD kabupaten, provinsi, atau pusat, untuk memperbaiki sekolah yang rusak atau terpengaruh,” tutup Deden.
