RAGAM BAHASA– Nama Jet Li selama ini identik dengan film laga kelas dunia dan bayaran fantastis. Namun, di balik reputasinya sebagai ikon aksi internasional, tersimpan kisah getir tentang perjuangan panjang yang jarang diketahui publik.
Aktor asal Tiongkok itu mengawali karier filmnya lewat Shaolin Temple pada 1982. Saat itu, ia bukan diposisikan sebagai aktor profesional, melainkan masih berstatus atlet wushu yang berada di bawah sistem negara. Honor yang diterimanya pun jauh dari kata layak—hanya 1 Yuan per hari, setara sekitar Rp2.000 pada masa tersebut.
Ironisnya, film debutnya justru meledak di pasaran dan meraih pendapatan sekitar US$111,9 juta secara global. Kesuksesan besar itu tak serta-merta mengubah kondisi finansialnya. Dalam sejumlah wawancara, Jet Li pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki kebebasan memilih proyek dan diperlakukan layaknya pekerja yang terikat sistem.
Titik Balik di Hong Kong
Perubahan signifikan terjadi ketika Jet Li memutuskan hijrah ke industri film Hong Kong. Namanya mulai melejit setelah membintangi Once Upon a Time in China, film yang mengangkat kisah pahlawan rakyat Wong Fei-hung. Perannya dalam film tersebut sukses mengangkat popularitasnya hingga ke seluruh Asia.
Dari sana, kariernya terus menanjak. Ia kemudian menembus pasar Hollywood lewat Lethal Weapon 4, yang memperkenalkannya ke audiens global dan memperkokoh statusnya sebagai bintang laga internasional.
Dari Bayaran Receh ke Kekayaan Triliunan
Kini, kekayaan bersih Jet Li diperkirakan mencapai US$250 juta atau sekitar Rp4,2 triliun. Angka tersebut merupakan hasil dari puluhan tahun berkarier di industri film Asia dan Hollywood, termasuk berbagai proyek blockbuster yang sukses secara komersial.
Perjalanan hidup Jet Li menjadi gambaran nyata bahwa kesuksesan besar sering kali berawal dari titik yang sangat sederhana. Dari bayaran 1 Yuan per hari hingga menjadi salah satu aktor laga paling berpengaruh di dunia, kisahnya menjadi inspirasi tentang kerja keras, keberanian mengambil keputusan, dan ketekunan menghadapi keterbatasan.
Dari panggung wushu hingga layar lebar internasional, Jet Li membuktikan bahwa awal yang sulit bukanlah penentu akhir perjalanan.
(NAUVAL)
