RAGAM BAHASA-Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menembus level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak awal pekan.
Mengacu pada data perdagangan Bloomberg sekitar pukul 09.25 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.704 per dolar AS atau turun sekitar 36 poin dibanding perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut memperpanjang tekanan setelah pada penutupan Senin (18/5/2026), rupiah juga ditutup melemah di kisaran Rp17.668 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah kembali menguatnya dolar AS di pasar internasional. Penguatan mata uang Amerika dipicu meningkatnya optimisme investor setelah Presiden AS, Donald Trump, disebut menunda rencana aksi militer terhadap Iran dan memilih membuka jalur diplomasi.
Situasi tersebut membuat kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah sedikit mereda. Dampaknya, pasar obligasi global yang sebelumnya mengalami tekanan jual mulai menunjukkan stabilitas sehingga minat investor kembali mengarah ke aset berbasis dolar AS.
Indeks dolar AS atau dollar index yang menjadi acuan kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat berada di level 99,026. Angka itu menunjukkan posisi dolar kembali menguat setelah sempat mengalami pelemahan pada perdagangan sebelumnya.
Tekanan penguatan dolar juga dirasakan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang tercatat mengalami pelemahan, sementara won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang dengan tekanan paling besar terhadap dolar AS.
Meski demikian, tidak seluruh mata uang Asia bergerak negatif. Yuan China, ringgit Malaysia, hingga peso Filipina masih mampu mencatat penguatan tipis di tengah dominasi penguatan dolar AS di pasar global.
(EGOL)
