RAGAM BAHASA – Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat menindaklanjuti laporan mengenai puluhan siswa SDN Bojongkoneng, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, yang mengalami gangguan kesehatan setelah menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tim langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan sekaligus memastikan penanganan terhadap para siswa yang terdampak.
Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Sukabumi, Firman Juliansyah, menjelaskan bahwa informasi mengenai kejadian tersebut diterima pada Selasa (28/7/2026). Sesaat setelah laporan masuk, pihaknya menginstruksikan koordinator kecamatan untuk mendatangi sekolah dan berkoordinasi dengan pihak terkait guna melakukan langkah-langkah penanganan.
Menu MBG yang dibagikan kepada para siswa pada hari itu berasal dari SPPG Sukabumi Cibadak 02 yang telah beroperasi sejak 19 Agustus 2025. Paket makanan terdiri atas nasi liwet, telur asam manis, tumis wortel dan jagung, susu UHT, serta buah lengkeng.
Dalam proses pengecekan di sekolah sekitar pukul 09.20 WIB, tim SPPG memperoleh informasi bahwa terdapat sejumlah susu UHT yang diduga telah melewati masa kedaluwarsa. Menindaklanjuti temuan tersebut, seluruh stok susu yang berada di sekolah langsung ditarik dan diganti dengan produk baru sebanyak 218 kemasan sesuai jumlah penerima manfaat di SDN Bojongkoneng.
Firman menyebutkan bahwa produk yang diduga kedaluwarsa bukan seluruh susu yang didistribusikan, melainkan hanya sebagian karton. Namun, sebagian susu tersebut telah lebih dulu dikonsumsi oleh siswa sebelum dilakukan penarikan.
Laporan awal yang diterima sekitar pukul 09.45 WIB menyebutkan ada 10 siswa mengeluhkan kondisi kesehatannya setelah mengonsumsi susu. Setelah dilakukan pendataan lebih lanjut, jumlah siswa yang mengalami keluhan bertambah menjadi 17 orang pada hari yang sama.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, susu yang menjadi perhatian merupakan susu UHT rasa cokelat dengan tanggal kedaluwarsa tercantum 28 Juni 2026.
Pada hari pertama kejadian, sebagian besar siswa mengalami gejala ringan. Dua siswa dilaporkan mengalami muntah dan diare, sementara seorang siswa dibawa orang tuanya ke puskesmas karena mengalami sesak napas. Satu siswa lainnya menjalani penanganan di rumah.
BGN bersama tenaga kesehatan kemudian melakukan penanganan awal dengan memberikan obat-obatan, air kelapa, serta melakukan pemantauan langsung ke rumah para siswa. Dua siswa juga sempat diperiksa oleh bidan sebagai bagian dari observasi medis.
Hingga Rabu (29/7/2026) pagi, jumlah siswa yang dilaporkan mengalami keluhan meningkat menjadi 39 orang. Dari total tersebut, 16 siswa telah dinyatakan pulih dan sebagian sudah kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Sementara itu, 22 siswa masih menjalani perawatan di rumah dengan gejala ringan.
Selain itu, seorang siswa yang mengalami demam tinggi disertai riwayat kejang dirujuk ke rumah sakit guna memperoleh penanganan medis lebih lanjut.
BGN menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi seluruh siswa terdampak serta melakukan evaluasi terhadap proses distribusi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
(Egol)
