RAGAM BAHASA – Situasi keamanan di Arab Saudi kembali menjadi sorotan setelah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dilaporkan mengalami serangan pada Minggu (11/10/2026). Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi asal Yaman, sehari setelah serangan sebelumnya menimbulkan korban jiwa dan ratusan orang terluka.
Mengutip laporan AFP pada Senin (12/10/2026), koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi menyebut sebuah proyektil menghantam area bandara dan memicu kebakaran. Di saat yang sama, sistem pertahanan udara Saudi dilaporkan berhasil menghancurkan rudal lain sebelum mencapai sasarannya.
Otoritas penerbangan sipil setempat membenarkan adanya korban luka dalam kejadian tersebut. Namun, jumlah pasti korban maupun besarnya kerusakan masih belum diumumkan secara terperinci karena proses pemeriksaan masih berlangsung.
Suara ledakan juga terdengar di sejumlah wilayah Riyadh. Sejumlah warga merasakan getaran pada bangunan ketika insiden terjadi. Seorang penduduk kawasan Al-Aarid di bagian utara kota menggambarkan situasi tersebut sebagai kejadian yang mengejutkan dan membuat warga panik.
Houthi Klaim Lancarkan Serangan Beruntun
Kelompok Houthi menyatakan bertanggung jawab atas serangkaian serangan dalam kurun waktu 24 jam, termasuk yang menyasar bandara di Riyadh. Kelompok tersebut juga mengisyaratkan bahwa fasilitas transportasi di Arab Saudi masih berpotensi menjadi sasaran berikutnya.
Selain Riyadh, Bandara Dammam di wilayah timur Arab Saudi turut masuk dalam laporan serangan. Sehari sebelumnya, koalisi militer Saudi menyampaikan bahwa sebuah proyektil jatuh di sekitar bandara tersebut pada Sabtu (10/10/2026).
Militer Arab Saudi juga mengumumkan telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak atau drone di wilayah timur negara itu. Rangkaian insiden tersebut memperlihatkan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur transportasi dan keamanan penerbangan di kawasan tersebut.
Serangan Sebelumnya Tewaskan Sejumlah Warga
Serangan pada Sabtu (10/10/2026) dilaporkan menjadi salah satu insiden paling mematikan di Arab Saudi sejak aksi bom bunuh diri pada 2015.
Berdasarkan keterangan otoritas penerbangan sipil yang dikutip dalam laporan tersebut, korban meninggal mencakup warga dari sejumlah negara. Mereka terdiri atas empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Selain korban meninggal, sebanyak 309 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Kedutaan Besar India kemudian mengonfirmasi bahwa seorang warga negara India meninggal dunia pada Minggu akibat luka yang dialaminya dalam serangan sehari sebelumnya.
Dampak serangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai keselamatan masyarakat sipil serta keamanan fasilitas penerbangan di Arab Saudi.
Dengan adanya laporan serangan lanjutan terhadap Riyadh dan Dammam, perhatian kini tertuju pada langkah pengamanan yang akan ditempuh otoritas Saudi untuk melindungi bandara dan infrastruktur strategis lainnya.
Sumber: AFP dan keterangan otoritas yang dikutip dalam laporan tersebut.
(Egol)
