RAGAM BAHASA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjadi perhatian serius masyarakat. Kabut asap yang semakin pekat dinilai telah mengganggu kehidupan sehari-hari warga, sekaligus menimbulkan ancaman terhadap kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi.
Situasi tersebut mendorong masyarakat meminta pemerintah pusat mengambil langkah lebih besar dalam menangani bencana. Warga menilai penanganan karhutla membutuhkan dukungan yang lebih kuat, terkoordinasi, serta melibatkan berbagai unsur di tingkat nasional.
Vincent, salah seorang warga Palangkaraya, menyampaikan harapannya agar pemerintah segera menetapkan status bencana nasional menyusul kondisi kabut asap yang terus memburuk.
Menurutnya, masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak merasakan langsung dampak karhutla. Ia berharap pemerintah tidak menunda langkah konkret untuk mempercepat penanganan dan melindungi warga.
“Sebagai warga Kota Palangkaraya yang turut terdampak karhutla dan melihat kondisi kabut asap yang semakin hari semakin menebal, kita berharap kepada pemerintah pusat untuk segera menetapkan sebagai bencana nasional agar penanganannya lebih masif,” ujar Vincent, Senin (12/10/2026).
Ancaman Kesehatan hingga Tekanan Ekonomi
Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari menurunnya jarak pandang akibat asap. Kualitas udara yang memburuk juga menjadi kekhawatiran masyarakat, terutama karena paparan asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Vincent menyoroti meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disebutnya menjadi salah satu persoalan utama di tengah kondisi tersebut.
Ia juga mengungkapkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat ikut terdampak. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Palangkaraya menghadapi situasi yang semakin sulit ketika kondisi lingkungan menghambat aktivitas masyarakat.
“Dampaknya masuk ke berbagai sektor. Terutama di kesehatan, itu sangat jelas dengan melihat angka warga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) semakin tinggi. Kemudian di sektor ekonomi, pelaku UMKM kita di Palangkaraya juga mengalami dampak yang signifikan,” lanjutnya.
Kegiatan Pendidikan Ikut Terganggu
Selain sektor kesehatan dan perekonomian, kabut asap turut memengaruhi dunia pendidikan. Kondisi udara yang tidak sehat menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan peserta didik serta kelancaran kegiatan belajar-mengajar.
Warga berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api, tetapi juga mencakup perlindungan masyarakat dari dampak asap yang ditimbulkan.
Di sisi lain, masyarakat menyampaikan kekecewaan terhadap respons pemerintah pusat yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan beratnya situasi di lapangan. Pernyataan yang terkesan menggambarkan kondisi masih terkendali dinilai tidak sejalan dengan pengalaman warga yang setiap hari menghadapi kabut asap.
Warga Harapkan Penanganan Lebih Terpadu
Persoalan bantuan juga menjadi perhatian. Vincent menyoroti informasi mengenai alokasi anggaran penanganan bencana dari pemerintah pusat yang disebut belum menjangkau Pemerintah Kota Palangkaraya secara merata, sementara bantuan dikabarkan telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak lainnya.
Masyarakat berharap distribusi bantuan dapat dilakukan secara tepat sasaran sesuai kebutuhan daerah yang mengalami dampak karhutla.
Penetapan status bencana nasional dinilai warga dapat menjadi salah satu langkah untuk mendorong penanganan yang lebih luas. Mereka mengharapkan penguatan personel, dukungan anggaran, penyediaan layanan medis, serta distribusi perlengkapan penanganan bencana secara cepat dan terpadu.
Di tengah kondisi yang semakin mengkhawatirkan, masyarakat Palangkaraya berharap pemerintah pusat segera memberikan respons nyata agar dampak karhutla dapat ditekan dan keselamatan warga menjadi prioritas utama.
(Egol)
