RAGAM BAHASA-Seorang putra asli Papua, Felix Degei, menjadi sorotan setelah memilih mengabdikan diri sebagai guru honorer di kampung halamannya meski telah menempuh pendidikan magister di Australia melalui beasiswa LPDP.

Felix merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang melanjutkan studi Master of Education di University of Adelaide, salah satu universitas ternama di Australia.

Keputusan Felix kembali ke Papua tidak lepas dari pengalaman masa kecilnya yang penuh perjuangan. Ia harus berjalan kaki sejauh sekitar 26 kilometer setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah selama dua tahun.

“Pagi berangkat subuh sudah mulai jalan kaki, lalu pulang lagi setelah sekolah. Begitu terus setiap hari,” kenang Felix.

Felix berasal dari Kampung Putaapa, wilayah yang hingga kini masih memiliki keterbatasan infrastruktur seperti listrik dan akses internet. Kondisi tersebut membuat banyak anak di daerahnya berisiko putus sekolah.

Perjalanan Mengejar Pendidikan

Ketertarikan Felix terhadap Australia bermula sejak kecil ketika ia sering mendengarkan radio milik ayahnya. Radio tersebut menangkap siaran dari Melbourne yang sering menyebutkan kalimat “Radio Australia dari Melbourne”.

Kalimat itu terus melekat dalam benaknya hingga akhirnya menjadi motivasi untuk menempuh pendidikan di negeri tersebut.

Felix kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Cenderawasih pada program studi Bimbingan dan Konseling dan lulus pada 2012. Setelah itu, ia bekerja sebagai asisten dosen sambil mengikuti kursus bahasa Inggris di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) di Denpasar.

Di sana ia mulai mengenal berbagai program beasiswa internasional, termasuk Australia Awards, Fulbright, Chevening, dan LPDP.

Sempat gagal dalam seleksi Australia Awards Scholarship, Felix tidak menyerah. Ia terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi ke Australia.

Memilih Pulang ke Papua

Setelah menyelesaikan pendidikan di Australia, Felix sebenarnya memiliki peluang karier yang menjanjikan di Jakarta. Ia bahkan sempat diminta membantu sebagai tenaga ahli untuk seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Namun, ia memutuskan menolak kesempatan tersebut dan memilih kembali ke Papua untuk mengajar.

Sejak 2019, Felix mengajar sebagai guru honorer di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire. Selain itu, ia juga mengajar di beberapa perguruan tinggi di Nabire, termasuk program PGSD milik Universitas Cenderawasih dan Universitas Satya Wiyata Mandala.

Sebagian besar siswa yang diajarnya berasal dari wilayah pedalaman Papua. Felix mengungkapkan bahwa banyak dari mereka bahkan masih kesulitan membaca, menulis, hingga menghafal perkalian dasar.

“Perkalian satu sampai sepuluh saja kadang butuh waktu lama sampai mereka bisa menghafalnya dengan lancar,” ujarnya.

Meski tantangan pendidikan di Papua sangat besar, Felix merasa kehadirannya sebagai guru sangat dibutuhkan.

“Kalau saya menghilang, itu tidak baik,” katanyaPapua.

Pilihan Felix untuk kembali mengabdi di daerah asalnya menjadi contoh nyata dedikasi terhadap pendidikan di daerah terpencil Indonesia, khususnya di Tanah Papua.

(NAUVAL)