RAGAM BAHASA– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Menghadapi kondisi tersebut, berbagai pihak mengingatkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini guna mengurangi dampak kekeringan terhadap masyarakat dan berbagai sektor.
Pakar klimatologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Rizaldi Boer, mengatakan pemerintah daerah perlu segera memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih selama musim kemarau.
“Puncak musim kemarau biasanya meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan. Karena itu, penguatan cadangan air dan pengelolaan sumber daya air harus dilakukan sebelum kondisi semakin kering,” ujar Rizaldi kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak. Petani diimbau menyesuaikan pola tanam dan memperhatikan ketersediaan irigasi agar produktivitas tetap terjaga.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDKMI), Dr. Hasbullah Thabrany, mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan selama musim kemarau. Cuaca panas dan minimnya curah hujan berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi serta gangguan pernapasan.
“Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan perlu memperhatikan asupan cairan. Selain itu, kualitas udara juga harus dipantau karena musim kemarau sering kali berkaitan dengan meningkatnya debu dan polusi,” katanya.
Di sektor kebencanaan, Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Indonesia (UI), Dr. Syamsul Maarif, menilai koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah harus diperkuat untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat musim kemarau mencapai puncaknya.
“Langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kejadian. Edukasi masyarakat, patroli kawasan rawan, dan kesiapan sarana pemadaman perlu ditingkatkan sejak sekarang,” ujarnya.
BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada periode Juli hingga September. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi serta melakukan langkah-langkah mitigasi guna mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kondisi kemarau yang berkepanjangan.
(FIKRI)
