RAGAM BAHASA – Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis sepanjang akhir Juni 2026 berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Otoritas kesehatan setempat melaporkan lonjakan angka kematian sekitar 30 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Berdasarkan data Public Health France, sejak 22 Juni 2026 tercatat sekitar 2.025 kematian tambahan, atau meningkat sekitar 29,1 persen, ketika suhu udara mencapai puncaknya di berbagai wilayah negara tersebut. Di kawasan Paris, peningkatan angka kematian bahkan mencapai sekitar 62 persen pada periode yang sama.

Gelombang panas berlangsung pada 17–30 Juni dan membuat suhu di lebih dari 40 persen wilayah Prancis menembus 40 derajat Celsius. Menurut Meteo-France, Juni 2026 menjadi bulan Juni terpanas yang pernah tercatat sejak 1947.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia berperan besar dalam meningkatnya intensitas gelombang panas yang melanda Eropa tahun ini.

Kelompok lanjut usia berusia 65 tahun ke atas menjadi korban terbanyak. Namun, otoritas kesehatan juga mencatat peningkatan signifikan angka kematian pada kelompok usia 45 hingga 64 tahun.

Kondisi cuaca ekstrem turut mengganggu aktivitas masyarakat. Sejumlah sekolah ditutup, perjalanan kereta api dibatalkan, dan pemerintah menghadapi kritik terkait kesiapan menghadapi suhu yang sangat tinggi.

Di sisi lain, banyak warga berupaya mengurangi panas di dalam rumah dengan berbagai cara. Mengingat masih banyak bangunan yang memiliki isolasi panas kurang memadai, sebagian warga menutup jendela menggunakan selimut darurat maupun cat berbahan dasar kapur untuk membantu menjaga suhu ruangan tetap lebih sejuk.

Gelombang panas yang melanda Prancis menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dapat menimbulkan dampak besar, baik terhadap kesehatan masyarakat maupun aktivitas sosial dan ekonomi.

(NOVAL)