RAGAM BAHASA — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali mengubah bentang alam di kawasan Selat Sunda. Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan.
Daratan tersebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama periode peningkatan aktivitas erupsi. Proses pembentukan berlangsung secara bertahap, bukan muncul secara tiba-tiba dalam satu kali letusan.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari berbagai pemberitaan, aktivitas Gunung Anak Krakatau sempat meningkat hingga statusnya berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Material hasil erupsi kemudian menumpuk di kawasan sekitar gunung dan membentuk bentang daratan baru.
Kemunculan daratan tersebut turut memunculkan spekulasi di masyarakat mengenai kemungkinan terbentuknya pusat gunung api baru. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi ilmiah bahwa daratan itu merupakan cikal bakal gunung api baru atau yang disebut sebagai “cucu Krakatau”.
Sementara itu, status Gunung Anak Krakatau telah diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 21 September 2026 setelah evaluasi menunjukkan adanya penurunan aktivitas erupsi, kegempaan, dan deformasi. Meski demikian, masyarakat tetap direkomendasikan tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
Perubahan bentang alam tersebut kini masih menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Keberadaan daratan baru belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan akan terbentuknya pusat erupsi baru di lokasi tersebut.
(FIKRI)
