RAGAMBAHASA.com – Fenomena langit Bulan Purnama Salju (Snow Moon) terjadi hari ini, Minggu, 1 Februari 2026, dan menjadi salah satu peristiwa astronomi yang menarik perhatian para pengamat langit. Bulan purnama kedua sepanjang tahun 2026 ini mencapai fase purnama pada sore hari waktu Amerika Timur atau pada dini hari waktu Indonesia.

Pada momen tersebut, Bulan tampak bulat sempurna dan sangat terang. Posisi Bulan juga berada berdekatan dengan gugus bintang Beehive (M44) yang terletak sekitar 577 tahun cahaya dari Bumi. Fenomena ini memberikan kesempatan langka untuk mengamati objek langit yang biasanya sulit terlihat, terutama dengan bantuan binokular atau teleskop kecil.

Bulan Purnama Salju diperkirakan tetap terlihat terang hingga Senin malam, 2 Februari 2026. Selain keindahan visual, kemunculan Bulan purnama ini juga memunculkan pertanyaan mengenai asal-usul penamaannya yang tidak berkaitan langsung dengan kondisi fisik Bulan.

Asal-usul Nama Bulan Purnama Salju

Istilah Snow Moon berasal dari tradisi penamaan bulan purnama masyarakat di belahan Bumi utara. Berdasarkan catatan astronomi dan sejarah, Februari secara historis dikenal sebagai periode dengan curah salju tertinggi di Amerika Utara dan Eropa. Karena itu, bulan purnama yang muncul pada Februari disebut Bulan Salju.

Penamaan ini dipopulerkan oleh Jonathan Carver pada abad ke-18 dalam catatan perjalanannya di Amerika Utara. Ia mencatat bahwa masyarakat adat menandai waktu berdasarkan kondisi alam dan musim. Selain Snow Moon, bulan purnama Februari juga dikenal dengan berbagai nama lain, seperti Bulan Elang Botak, Bulan Beruang, dan Bulan Lapar, yang mencerminkan kondisi alam dan kesulitan pangan di musim dingin.

Data meteorologi modern menunjukkan bahwa Februari masih menjadi salah satu bulan dengan intensitas badai musim dingin tertinggi di wilayah Amerika Serikat, sehingga penamaan Bulan Salju dinilai tetap relevan secara historis.

Gugus Beehive dan Okultasi Regulus

Keistimewaan Bulan Purnama Salju tahun ini semakin bertambah karena posisinya yang berdekatan dengan gugus Beehive, salah satu gugus bintang terbuka terdekat dari tata surya. Dengan alat bantu optik, pengamat dapat melihat puluhan hingga ratusan bintang di dalam gugus tersebut.

Selain itu, Bulan berada di antara bintang Pollux di rasi Gemini dan Regulus di rasi Leo. Pada 2 Februari 2026, sebagian wilayah Amerika Utara bahkan berkesempatan menyaksikan okultasi Regulus, yakni peristiwa ketika bintang tersebut tertutup oleh Bulan selama sekitar satu jam. Fenomena ini tergolong langka dan tidak akan terulang dalam kondisi serupa hingga akhir dekade 2030-an.

Tidak Berdampak Fisik, Hanya Efek Visual

Secara ilmiah, Bulan Purnama Salju tidak menimbulkan dampak fisik berbahaya bagi Bumi. Efek yang paling terasa hanyalah ilusi Bulan, yakni kondisi ketika Bulan tampak lebih besar saat berada dekat cakrawala. Ilusi ini terjadi akibat cara otak manusia memproses persepsi visual, bukan karena perubahan jarak Bulan ke Bumi.

Awal Parade Fenomena Langit Februari 2026

Bulan Purnama Salju menjadi pembuka rangkaian panjang fenomena astronomi sepanjang Februari 2026. Pada pertengahan bulan, akan terjadi Gerhana Matahari Cincin yang dapat diamati secara terbatas di wilayah selatan Bumi. Selanjutnya, Bulan sabit akan tampak berdekatan dengan Merkurius dan Saturnus, disusul pertemuan Bulan dengan gugus Pleiades.

Menjelang akhir Februari, langit malam akan dihiasi parade enam planet, termasuk Venus, Merkurius, Saturnus, dan Jupiter. Pada periode yang sama, inti galaksi Bima Sakti mulai kembali terlihat di ufuk tenggara pada dini hari.

Rangkaian fenomena ini menjadikan Februari 2026 sebagai salah satu bulan paling dinamis untuk pengamatan langit, sebelum ditutup dengan Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026.