RAGAM BAHASA– Nama Letkol (Purn) Mitsuyuki Tanaka mungkin tak banyak dikenal generasi muda. Namun kisah hidupnya menjadi bagian unik dari sejarah perjuangan Indonesia. Lahir sebagai tentara Kekaisaran Jepang, ia justru memilih berdiri di barisan rakyat Indonesia dan kemudian resmi menjadi prajurit TNI hingga pensiun dengan pangkat Letnan Kolonel.

Mitsuyuki Tanaka lahir pada 10 November 1921 di Kyomimura, Kota Takayama, Prefektur Gifu, Jepang. Di usia 18 tahun, dua bulan setelah menikah dengan Tomiko Yano, ia dikirim ke medan perang di Manchuria, Tiongkok Utara, dalam ekspansi militer Jepang.

Setelah setahun bertempur di Tiongkok, ia dipindahkan ke kawasan Asia Tenggara seiring meluasnya agresi pasukan Dai Nippon. Filipina, Thailand, Malaya, dan Singapura menjadi wilayah yang pernah disinggahinya sebelum akhirnya tiba di Hindia Belanda pada 1942. Perjalanannya membawanya ke Tarakan, Papua, hingga akhirnya mendarat di Jawa pada Juli–Agustus 1945 bersama pasukan Jepang.

Titik Balik Setelah Jepang Menyerah

Perubahan besar dalam hidupnya terjadi ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki yang memaksa Jepang menyerah kepada Sekutu. Saat itu, Tanaka mendapat mandat menjaga stabilitas di Magelang hingga kedatangan tentara Inggris.

Namun, dalam situasi penuh ketidakpastian tersebut, ia memilih jalan berbeda. Alih-alih tunduk pada Sekutu, Tanaka bersimpati pada perjuangan rakyat Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaan.

Ia berkoordinasi dengan pejuang republik dan pemuda di Magelang untuk mengambil senjata dari gudang militer Jepang. Senjata-senjata itu kemudian digunakan untuk memperkuat perlawanan rakyat.

Tanaka bahkan turut melatih para pemuda bersama tokoh militer Indonesia seperti Ahmad Yani. Ia juga terlibat dalam pertempuran penting, termasuk Palagan Magelang dan Palagan Ambarawa pada akhir 1945. Dalam salah satu pertempuran di Ambarawa, ia sempat tertembak di bagian perut.

Berganti Nama, Mengabdi untuk Indonesia

Selama masa perjuangan, Mitsuyuki Tanaka mengganti namanya menjadi nama Jawa. Beberapa nama sempat digunakannya seperti Basri, Sutro, dan Sastro, sebelum akhirnya dikenal luas dengan nama Sutoro.

Ia kemudian menikah dengan Suparti di Salaman, Magelang, dan membangun keluarga di Indonesia. Kesetiaannya terhadap negeri yang dipilihnya itu tak diragukan lagi. Ia resmi menjadi prajurit TNI dan mengabdi hingga pensiun pada 1974 dengan pangkat Letnan Kolonel—konon menjadi pangkat tertinggi yang pernah diraih mantan tentara Jepang di Indonesia.

Setelah pensiun, Sutoro membuka usaha bengkel bus di Pakelan, Magelang. Keluarganya mengenang sosoknya sebagai pribadi yang tegas dan nasionalis. Ia selalu memastikan bendera Merah Putih dikibarkan setiap hari besar nasional, dan akan marah jika hal itu terabaikan.

Letkol (Purn) Mitsuyuki Tanaka alias Sutoro wafat pada 1 Agustus 1998 di Magelang. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giridharmoloyo II bersama para pejuang bangsa lainnya.

Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa sejarah tak selalu hitam dan putih. Dari seorang tentara penjajah, Mitsuyuki Tanaka menjelma menjadi pejuang dan prajurit yang mengabdikan hidupnya bagi Indonesia.

(NAUVAL)