Oleh : Dede (omo) Nuryana

Tidak semua luka terdengar keras. Sebagian hanya berisik di dalam kepala. Ia tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi menetap lama dalam ingatan. Dan anehnya, kita sering belajar hidup berdampingan dengan itu, seolah perasaan tidak dihargai adalah bagian dari rutinitas yang harus diterima.

Di banyak ruang, kepercayaan dibagikan seperti hadiah. Namun, penghargaan disimpan rapat seperti rahasia. Kita diminta berdiri paling depan ketika pekerjaan datang, tetapi perlahan dipersilakan mundur ketika pengakuan dibicarakan. Kita disebut “bagian”, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian. Ada kursi, tetapi tidak pernah ada tempat duduk.

Barangkali, ini bukan tentang pekerjaan. Bukan pula sekadar tentang pertemanan. Ini tentang posisi. Tentang bagaimana seseorang ditempatkan: cukup dekat untuk dimanfaatkan, cukup jauh untuk tidak dihargai. Kita diberi ruang bergerak, tetapi tidak diberi ruang bertumbuh. Dan kita menerimanya, sebab yang ditawarkan bukan ketulusan, melainkan harapan.

Ada orang-orang yang pandai merawat citra. Di depan, mereka hangat. Di belakang, mereka lihai menyusun jarak. Mereka tidak pernah benar-benar menyakiti, tetapi juga tidak pernah sungguh-sungguh menghargai. Mereka memastikan kita tetap bertahan, cukup dengan sedikit pengakuan, seperti memberi air pada tanaman yang tidak pernah diizinkan tumbuh tinggi.

Lucunya, yang paling sering terlambat menyadari adalah mereka yang paling setia. Mereka percaya bahwa kerja keras suatu hari akan dilihat. Mereka yakin bahwa diam adalah bentuk kedewasaan. Padahal, diam sering kali hanya menjadi cara paling sopan untuk dilupakan.

Kesadaran biasanya datang pelan, seperti senja yang tidak pernah benar-benar kita tunggu. Tiba-tiba saja gelap. Kita baru menyadari bahwa selama ini bukan kita yang gagal cukup baik, melainkan lingkungan yang tidak pernah berniat melihat. Bukan karena kita kurang layak, melainkan karena sejak awal kita hanya diposisikan sebagai pelengkap.

Maka, mungkin bukan tentang pergi dengan marah. Tidak perlu pula membuktikan apa pun. Kadang, bentuk keberanian paling sunyi adalah memilih berdiri di tempat lain. Tempat yang tidak perlu banyak kata untuk menghargai. Tempat yang tidak menjadikan loyalitas sebagai alat tawar.

You deserve better. Bukan karena dunia akan berubah. Tetapi karena suatu hari, kita perlu jujur pada diri sendiri: bahwa bertahan di tempat yang salah tidak pernah menjadikan kita kuat, hanya menjadikan kita terbiasa terluka.