RAGAM BAHASA-Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Pakistan belum menghasilkan titik temu. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa diskusi yang berjalan selama hampir sehari penuh itu masih menyisakan banyak perbedaan mendasar.
Berbicara kepada media pada Minggu (12/4), Vance mengungkapkan bahwa delegasi AS telah meninggalkan lokasi perundingan dan bersiap kembali ke Washington. Ia menilai pihak Iran belum bersedia menerima sejumlah syarat yang diajukan oleh Amerika Serikat.
Pertemuan ini menjadi momen langka karena merupakan dialog tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran 1979. Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Awalnya, suasana perundingan dilaporkan berlangsung cukup kondusif. Seorang pejabat Pakistan menyebut diskusi berjalan dalam atmosfer yang positif dan penuh keterbukaan. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama.
Sumber lain mengungkapkan dinamika pembicaraan berubah drastis setelah jeda berlangsung. Ketegangan disebut meningkat, dengan perbedaan sikap yang semakin terlihat dari kedua kubu.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyampaikan bahwa dialog belum sepenuhnya berakhir. Dalam pernyataan resminya, Teheran menyebut pembahasan teknis masih akan berlanjut melalui pertukaran dokumen antar tim ahli, meski sejumlah isu krusial belum menemukan solusi.
Salah satu tuntutan utama Iran dalam perundingan ini adalah pencairan aset negara mereka yang selama ini dibekukan di luar negeri. Selain itu, Iran juga mengajukan permintaan terkait kendali atas Selat Hormuz, kompensasi konflik, hingga penghentian konflik secara luas di kawasan termasuk Lebanon.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik sensitif dalam pembahasan. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen distribusi minyak global melintas di sana. Penutupan selat oleh Iran sejak konflik berlangsung telah meningkatkan kekhawatiran pasar internasional.
Militer AS sebelumnya mengklaim telah mengirim kapal perang untuk melintasi kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas jalur pelayaran. Namun, klaim ini dibantah oleh media pemerintah Iran.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan perundingan lanjutan akan digelar. Meski begitu, kedua pihak memberi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
(EGOL)
