RAGAM BAHASA-Negara kepulauan kecil di Pasifik, Nauru, resmi memulai langkah untuk mengganti nama negaranya menjadi “Naoero” sebagai upaya melepaskan diri dari warisan kolonial dan menghidupkan kembali identitas budaya asli masyarakat setempat.
Keputusan tersebut disetujui parlemen Nauru pada Selasa (12/5/2026) setelah proposal diajukan oleh Presiden David Adeang sejak Januari lalu. Namun, perubahan nama itu masih harus menunggu hasil referendum nasional sebelum resmi diberlakukan.
Pemerintah Nauru menyebut nama “Nauru” selama ini muncul akibat kesalahan pelafalan bangsa asing terhadap nama asli negara tersebut, yakni “Naoero.” Menurut pemerintah, nama yang digunakan saat ini dianggap sebagai bentuk penyesuaian terhadap lidah kolonial, bukan pilihan masyarakat asli.
“Nama Nauru muncul karena Naoero tidak bisa diucapkan dengan tepat oleh lidah asing. Akhirnya nama tersebut diubah untuk mempermudah mereka, bukan atas pilihan kami,” demikian pernyataan pemerintah setempat.
Bahasa asli masyarakat di negara itu dikenal sebagai “Dorerin Naoero” dan masih digunakan mayoritas penduduk bersama bahasa Inggris. Dengan jumlah penduduk sekitar 10 ribu jiwa, pemerintah menilai penggunaan nama “Naoero” lebih mencerminkan identitas budaya dan sejarah bangsa mereka.
Presiden David Adeang mengatakan perubahan nama tersebut merupakan langkah penting untuk menghormati warisan budaya, bahasa, serta jati diri nasional masyarakat Nauru.
Sebagai negara kepulauan terkecil di dunia, Nauru hanya memiliki luas sekitar 20 kilometer persegi. Negara di kawasan Pasifik Selatan itu pernah berada di bawah kekuasaan Jerman sejak akhir abad ke-19 sebelum kemudian dikelola Australia, Inggris, dan Selandia Baru setelah Perang Dunia I.
Nauru meraih kemerdekaan pada 1968. Namun, eksploitasi tambang fosfat yang berlangsung sejak era kolonial meninggalkan dampak besar terhadap lingkungan. Sebagian besar wilayah tengah pulau kini menjadi tandus dan tidak layak huni akibat aktivitas penambangan berkepanjangan.
Rencana pergantian nama ini menjadi simbol upaya Nauru untuk memperkuat identitas nasional sekaligus meninggalkan jejak kolonial yang masih melekat hingga saat ini.
(NAUVAL)
