Episenter gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 5,3 di laut Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (5/8/2026) malam. (Sumber Foto: BMKG)

RAGAM BAHASA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa bumi yang mengguncang wilayah selatan Jawa Barat pada Rabu (5/8/2026) malam dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut. Gempa tersebut sempat dirasakan di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Bandung, hingga kawasan Palabuhanratu.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan hasil analisis terbaru menunjukkan gempa memiliki magnitudo 5,2, setelah sebelumnya diinformasikan bermagnitudo 5,3. Peristiwa itu terjadi pada pukul 21.55 WIB dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 87 kilometer barat daya Pangandaran, pada kedalaman 14 kilometer.

Menurut BMKG, karakteristik gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang berasal dari aktivitas sesar aktif. Analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan patahan dengan tipe geser naik (oblique thrust), yang menjadi penyebab terjadinya guncangan di wilayah selatan Jawa Barat.

Meski cukup kuat dirasakan masyarakat di berbagai daerah, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami. Hasil pemodelan yang dilakukan menunjukkan tidak ada indikasi ancaman gelombang tsunami akibat peristiwa tersebut.

Laporan yang diterima BMKG menyebutkan intensitas guncangan bervariasi. Di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung, getaran mencapai skala III MMI, sementara di Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Soreang, Pangalengan, dan Ciwidey berada pada kisaran II hingga III MMI. Di Palabuhanratu, Sumedang, Lembang, Ngamprah, Parongpong, dan Cihanjuang, getaran tercatat pada skala II MMI.

Hingga pukul 22.30 WIB, BMKG juga mencatat telah terjadi satu kali gempa susulan berkekuatan magnitudo 2,2. Pemantauan terhadap aktivitas seismik di kawasan tersebut masih terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya gempa susulan lainnya.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan sebelum dipastikan aman oleh pihak berwenang.

Masyarakat diharapkan selalu mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gempa melalui kanal komunikasi resmi BMKG, baik melalui situs web, aplikasi InfoBMKG, maupun akun media sosial resmi lembaga tersebut.

(Egol)