Sukabumi – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi terus berupaya menjaga dan meningkatkan fungsi jaringan irigasi di tengah kondisi geografis daerah yang memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai bencana, seperti banjir, longsor, gempa bumi, dan pergerakan tanah.
Upaya tersebut dinilai penting karena jaringan irigasi memiliki peran strategis dalam mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian sekaligus menjaga produktivitas dan ketahanan pangan di Kabupaten Sukabumi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Yadi Supriyadi, mengatakan pengelolaan jaringan irigasi menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah. Saat ini terdapat 156 daerah irigasi (DI) yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.
Jaringan tersebut melayani lahan potensial dan fungsional dengan luas mencapai sekitar 19.672 hektare. Menurut Yadi, keberadaan jaringan irigasi tersebut harus terus dipelihara agar distribusi air ke lahan pertanian tetap berjalan secara optimal.
“Hasil evaluasi bersama UPTD dan kondisi di lapangan menunjukkan bahwa lahan potensial dan lahan fungsional yang dilayani jaringan irigasi mencapai kurang lebih 19 ribu hektare. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk terus kita jaga dan tingkatkan,” ujar Yadi.
Namun, pengelolaan jaringan irigasi di Kabupaten Sukabumi menghadapi tantangan cukup besar akibat kondisi alam dan kejadian bencana. Dalam kurun waktu 2024 hingga 2025, tercatat sekitar 56 daerah irigasi terdampak bencana.
Dinas PU Kabupaten Sukabumi kemudian melakukan penanganan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi kerusakan dan kemampuan anggaran yang tersedia.
“Kurang lebih ada 56 daerah irigasi yang terdampak bencana. Alhamdulillah, sekitar 25 daerah irigasi sudah berhasil kami tangani melalui berbagai program perbaikan,” ungkapnya.
Yadi menjelaskan, kerusakan jaringan irigasi tidak hanya disebabkan oleh kebocoran saluran. Kondisi geografis Kabupaten Sukabumi yang rawan bencana juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlangsungan fungsi jaringan irigasi.
“Banyak, ada kebocoran, juga ada karena di kita itu kan rawan gempa dan longsor serta banjir. Nah, itu yang menjadikan satu permasalahan yang mungkin alam ini tidak bisa kita hindari,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas PU tidak hanya melakukan perbaikan terhadap infrastruktur yang mengalami kerusakan. Pemantauan secara berkala juga terus dilakukan bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) untuk mengetahui kondisi jaringan irigasi di masing-masing wilayah.
Langkah tersebut dilakukan agar potensi kerusakan dapat diketahui lebih awal dan penanganan dapat dilakukan sesuai tingkat kebutuhan di lapangan.
Saat ini, sekitar 64 persen jaringan irigasi di Kabupaten Sukabumi berada dalam kondisi baik. Dinas PU terus mendorong peningkatan kualitas jaringan agar pelayanan air ke lahan pertanian dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Selain mempertahankan jaringan yang sudah ada, pemerintah daerah juga memiliki potensi pengembangan lahan pertanian yang mencapai lebih dari 7.000 hektare. Pengembangan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Yadi berharap pengelolaan jaringan irigasi dapat terus ditingkatkan melalui pemeliharaan, perbaikan, pengawasan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan air pertanian.
“Kami berharap pengelolaan irigasi dapat terus ditingkatkan sehingga distribusi air ke lahan pertanian semakin optimal. Ini penting untuk mendukung produktivitas petani dan menjaga ketahanan pangan daerah,” pungkas Yadi.
