Sukabumi – Puluhan warga dari Kedusunan Cikadu dan Pasir Biru, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, mendatangi Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi, Senin (20/7/2026). Kedatangan mereka untuk meminta kepastian terkait rencana pembangunan kembali Daerah Irigasi (DI) Citarik atau Somang Cikadu yang selama kurang lebih 17 tahun tidak berfungsi secara optimal.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan jaringan irigasi tersebut memiliki peranan penting. Selain menunjang kebutuhan pertanian, saluran air tersebut sebelumnya juga dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi, mencuci hingga mendukung kebutuhan air untuk sarana ibadah.

Salah seorang warga, Neni, mengatakan masyarakat sangat berharap aliran irigasi Somang Cikadu dapat kembali berfungsi seperti sebelumnya. Menurutnya, warga telah menunggu dalam waktu yang sangat panjang agar persoalan tersebut mendapatkan penanganan secara menyeluruh.

Ia menjelaskan, setelah jaringan irigasi tidak lagi berfungsi, masyarakat harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga bahkan harus menuju Sungai Citarik untuk mandi dan mencuci dengan jarak tempuh sekitar 10 menit dari permukiman.

Kondisi tersebut semakin menyulitkan ketika musim kemarau tiba. Persediaan air menjadi terbatas sehingga warga harus lebih menghemat penggunaannya. Selain itu, aktivitas mencuci di sungai juga dinilai memiliki risiko terhadap keselamatan warga karena arus air dapat menjadi deras.

Neni mengaku masih merasa trauma setelah mengetahui adanya warga yang hampir terseret arus ketika melakukan aktivitas di Sungai Citarik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan tidak berfungsinya irigasi bukan hanya berdampak terhadap pertanian, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar dan keselamatan masyarakat.

Untuk memperoleh air bersih di rumah, sebagian warga memilih membeli air yang dialirkan dari kawasan pegunungan menggunakan jaringan selang. Biayanya sekitar Rp50 ribu per rumah setiap bulan, belum termasuk kebutuhan pemasangan dan perawatan jaringan.

Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tidak mudah, pengeluaran tambahan tersebut tentu menjadi beban tersendiri. Warga harus mengatur penggunaan air dengan sangat hemat, baik untuk kebutuhan mandi maupun konsumsi sehari-hari.

Sementara itu, warga lainnya, Ujang, mengungkapkan bahwa kerusakan jaringan irigasi juga memberikan dampak langsung terhadap sektor pertanian. Ia menyebut sekitar 63 hektare lahan pertanian yang sebelumnya memperoleh pasokan air dari jaringan tersebut kini berubah menjadi sawah tadah hujan.

Kondisi tersebut membuat produktivitas pertanian masyarakat mengalami penurunan karena kegiatan bercocok tanam sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air hujan.

Menurut Ujang, persoalan air juga semakin berat bagi masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli air atau membuat sumur. Sebagian warga terpaksa memanfaatkan sumber air yang kualitasnya dikhawatirkan tidak layak karena berada di kawasan yang juga menjadi tempat resapan limbah lingkungan.

Ia menegaskan bahwa masyarakat sangat berharap jaringan irigasi tersebut kembali berfungsi. Bagi warga, pembangunan kembali DI Citarik Somang tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan pertanian, tetapi juga menyangkut kebutuhan hidup masyarakat secara keseluruhan.

Ujang memperkirakan sekitar 7.000 warga yang tinggal di dua kedusunan, yakni Cikadu dan Pasir Biru, turut merasakan dampak dari tidak berfungsinya jaringan irigasi tersebut.

Dinas PU Pastikan Irigasi Citarik Jadi Prioritas

Menanggapi aspirasi masyarakat, Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Wisnu, mengatakan pemerintah daerah memahami persoalan yang selama ini dihadapi warga Cikadu.

Menurut Wisnu, DI Citarik, khususnya jaringan irigasi yang berada di wilayah Dusun Cikadu, memang telah masuk dalam daftar prioritas penanganan pemerintah daerah. Besarnya jumlah masyarakat yang memanfaatkan jaringan tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk mendorong penanganannya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menyampaikan usulan penanganan irigasi Citarik melalui program Inpres Irigasi Tahun 2026. Usulan tersebut, kata Wisnu, telah melalui proses verifikasi dan validasi atau verval SIPURI.

Dengan masuknya usulan tersebut ke dalam program Inpres Irigasi, pemerintah berharap penanganan jaringan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dibandingkan pemeliharaan yang selama ini hanya dapat dilakukan secara bertahap.

Wisnu mengatakan kebutuhan anggaran untuk menangani jaringan irigasi Citarik secara menyeluruh cukup besar. Estimasi kebutuhan pembiayaan berada pada kisaran Rp9 miliar hingga mendekati Rp10 miliar.

Besarnya kebutuhan anggaran tersebut menjadi salah satu alasan Dinas PU Kabupaten Sukabumi mengusulkan dukungan pembiayaan kepada pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi sejak 2022.

Sementara kemampuan APBD Kabupaten Sukabumi dinilai belum mencukupi untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan jaringan irigasi tersebut sekaligus. Karena itu, selama ini pemerintah daerah lebih banyak melakukan pemeliharaan dan penanganan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran.

DPU Masih Menunggu Kepastian Jadwal dari Pemerintah Pusat

Meski usulan penanganan DI Citarik telah masuk dalam program Inpres Irigasi 2026 dan selesai melalui proses verifikasi, Dinas PU Kabupaten Sukabumi mengaku belum memperoleh kepastian mengenai waktu pelaksanaan pekerjaan fisik.

Wisnu menjelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan yang berasal dari program tersebut bukan menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Karena itu, pihaknya masih menunggu informasi resmi dari pemerintah pusat mengenai jadwal pengerjaan.

Dinas PU melalui Bidang Sumber Daya Air juga akan terus melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk mendapatkan kepastian mengenai waktu dimulainya pembangunan.

Pemerintah daerah berharap proses tersebut dapat segera memperoleh kejelasan sehingga penanganan DI Citarik Somang Cikadu dapat direalisasikan dan manfaatnya kembali dirasakan masyarakat.

Dengan adanya dukungan program Inpres Irigasi, warga Cikadu kini berharap penantian panjang selama 17 tahun segera berakhir. Perbaikan jaringan irigasi diharapkan dapat mengembalikan pasokan air untuk lahan pertanian sekaligus membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat di Kedusunan Cikadu dan Pasir Biru.