RAGAM BAHASA — Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Senin (5/10/2026) malam. Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut tercatat mengalami dua kali erupsi dalam rentang waktu sekitar 15 menit.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 20.13 WIB, kemudian disusul erupsi kedua pada pukul 20.28 WIB.
Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menyampaikan bahwa kedua aktivitas tersebut tidak terlihat secara langsung karena tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara visual. Namun, aktivitas vulkanik itu terekam jelas melalui perangkat seismograf.
Berdasarkan hasil pencatatan, erupsi memiliki amplitudo maksimum mencapai 33 milimeter dengan durasi sekitar 1 menit 1 detik.
Selain aktivitas kegempaan, abu vulkanik juga terpantau berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 2,7 kilometer di atas permukaan laut dengan pergerakan sekitar 9 kilometer per jam.
Meski kembali mengalami erupsi, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level II atau Waspada.
Masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Imbauan tersebut diberlakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik.
Petugas juga meminta masyarakat dan pengguna jasa penerbangan yang beraktivitas di sekitar wilayah Selat Sunda untuk senantiasa memperhatikan perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat diingatkan agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang sumbernya tidak jelas, terutama kabar yang belum terverifikasi mengenai kondisi gunung api tersebut.
Sementara itu, pada Selasa (6/10/2026) pagi, aktivitas erupsi dilaporkan telah mereda. Kendati demikian, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level II atau Waspada, sehingga masyarakat diminta tetap mematuhi seluruh rekomendasi dan ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan petugas.
(Egol)
