RAGAM BAHASA– Jauh sebelum kemegahan Piramida Giza berdiri di Mesir, manusia purba ternyata telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam membangun struktur untuk bertahan hidup. Sebuah temuan arkeologi terbaru mengungkap adanya struktur buatan manusia yang diperkirakan berusia lebih dari 23.000 tahun — menjadikannya salah satu konstruksi tertua yang pernah ditemukan.

Struktur tersebut ditemukan di Gua Theopetra, wilayah Thessaly, Yunani. Bentuknya berupa dinding batu sederhana yang tersusun dari batu-batu tak beraturan dan diperkuat dengan tanah liat. Letaknya berada di bagian mulut gua, yang diduga sengaja dibuat untuk menutup sebagian pintu masuk.

Berdasarkan hasil penanggalan, dinding ini dibangun pada masa Last Glacial Maximum atau puncak Zaman Es terakhir, ketika suhu di Eropa jauh lebih dingin dibandingkan saat ini. Para arkeolog meyakini struktur tersebut berfungsi sebagai pelindung dari angin dingin ekstrem, sekaligus membantu menjaga suhu di dalam gua agar tetap hangat bagi para penghuninya.

Direktur penggalian di Gua Theopetra, Catherine Kyparissi-Apostolika, menyebut temuan ini sebagai bukti awal adanya perencanaan arsitektural dalam sejarah manusia.

“Ini menunjukkan bahwa manusia Paleolitikum mampu memodifikasi lingkungannya dengan cara yang jauh lebih kompleks dari yang sebelumnya kita bayangkan,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari berbagai sumber ilmiah.

Selama ini, banyak kalangan menganggap struktur monumental tertua berasal dari Göbekli Tepe di Turki yang berusia sekitar 11.500 tahun. Namun, temuan di Yunani ini memperlihatkan bahwa konsep membangun dan rekayasa lingkungan sudah dikenal manusia puluhan ribu tahun sebelumnya — meskipun masih dalam bentuk sederhana.

Situs dengan Jejak Hunian 130 Ribu Tahun

Gua Theopetra sendiri merupakan situs arkeologi penting karena menyimpan lapisan sedimen yang mencatat jejak hunian manusia selama lebih dari 130.000 tahun. Di lokasi ini, para peneliti juga menemukan alat-alat batu, sisa api unggun, perhiasan dari cangkang, hingga jejak kaki manusia purba.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa manusia prasejarah bukan sekadar pemburu-pengumpul pasif, melainkan individu yang cerdas dan adaptif. Tanpa logam, mesin, maupun sistem tulisan, mereka sudah mampu merancang solusi teknis untuk bertahan di lingkungan yang ekstrem.

Penemuan dinding berusia 23.000 tahun tersebut menjadi bukti bahwa sejarah arsitektur manusia dimulai jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan — membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang kecerdasan dan inovasi nenek moyang manusia.

(NAUVAL)