RAGAM BAHASA-Aktivitas alat berat di kawasan Bukit Gunung Karang, Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi, menuai sorotan warga. Perbukitan yang sebelumnya hijau dan dipenuhi pepohonan kini mulai terbuka setelah lerengnya diratakan.
Pantauan warga, sejumlah alat berat terlihat beroperasi dalam beberapa hari terakhir. Pepohonan ditebang dan kontur tanah diubah, diduga untuk kepentingan pembangunan perumahan.
Salah seorang warga Limusnunggal, Rudi (43), mengaku khawatir dengan perubahan tersebut. Menurutnya, kawasan perbukitan itu selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air sekaligus penahan alami potensi longsor.
“Dulu masih banyak pohon besar. Sekarang sudah mulai rata. Kalau hujan deras, kami takut terjadi longsor atau banjir ke permukiman di bawah,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Hal senada disampaikan Ketua RW setempat, Siti Aminah. Ia mengatakan, warga tidak menolak pembangunan, namun berharap ada keterbukaan informasi serta kajian lingkungan yang jelas sebelum proyek dilanjutkan.
“Kami ingin ada sosialisasi resmi. Jangan sampai pembangunan ini justru membahayakan warga di sekitar,” katanya.
Sementara itu, pengamat lingkungan dari Sukabumi Green Institute, Andi Pratama, menilai kawasan perbukitan seperti Gunung Karang memiliki fungsi ekologis penting. Selain sebagai daerah tangkapan air, vegetasi di lereng juga berperan menahan erosi.
“Jika pembukaan lahan dilakukan tanpa analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang komprehensif, risiko bencana ekologis bisa meningkat, terutama saat intensitas hujan tinggi,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Penataan Ruang pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Sukabumi, Irfan Maulana, menyatakan pihaknya akan mengecek perizinan proyek tersebut.
“Kami akan memastikan apakah kegiatan itu sudah mengantongi izin lengkap, termasuk dokumen lingkungan. Jika ada pelanggaran, tentu akan ditindak sesuai aturan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas alat berat masih terlihat di lokasi. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memastikan pembangunan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.
(FIKRI)
