RAGAM BAHASA-Kampung Lio di Desa Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, menyimpan rekam jejak panjang yang tak banyak diketahui publik. Di balik lanskapnya yang hijau dan suasana yang kini damai, kawasan ini pernah menjadi bagian penting dalam aktivitas militer pada masa kolonial Belanda.

Pada awal abad ke-20, wilayah Kampung Lio dipilih pemerintah Hindia Belanda sebagai lokasi latihan militer. Karakter geografisnya yang terdiri dari perbukitan, aliran sungai, serta medan yang menantang menjadikan area ini ideal untuk simulasi pertempuran. Lokasi-lokasi seperti Bukit Pamipiran, kaki Gunung Cipadung, hingga bantaran Sungai Cimandiri kerap digunakan sebagai titik latihan taktis.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada 5–10 September 1929, digelar latihan militer berskala besar di kawasan ini. Namun, latihan tersebut sempat menuai kritik karena dinilai minim penerapan strategi tempur, sehingga para perwira yang terlibat dijuluki “perwira salon”.

Memasuki dekade 1930-an, intensitas aktivitas militer di Kampung Lio semakin meningkat seiring memanasnya situasi global menjelang Perang Dunia II.

Puncaknya terjadi pada November 1941, ketika latihan perang besar digelar di Sukabumi dan menarik perhatian pejabat daerah serta petinggi militer.

Situasi berubah drastis saat Jepang mulai melakukan ekspansi ke wilayah Hindia Belanda pada awal 1940-an. Sukabumi, termasuk Kampung Lio, menjadi bagian dari jalur strategis pergerakan militer.

Tekanan perang dan ancaman serangan udara menandai babak baru, sekaligus menjadi saksi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang pada 1942.

Pasca berakhirnya masa kolonial, Kampung Lio bertransformasi menjadi wilayah pedesaan seperti yang terlihat saat ini. Meski aktivitas militer telah lama berlalu, jejak sejarahnya masih terasa melalui cerita masyarakat dan keberadaan sejumlah titik yang diyakini memiliki nilai historis. Salah satunya kawasan di sekitar Gunung Cipadung, termasuk situs pemakaman tradisional seperti Makam Eyang Layung Kuning.

Kini, Kampung Lio dikenal sebagai kawasan yang asri dengan hamparan sawah, perbukitan hijau, dan aliran sungai yang masih alami. Namun, di balik keindahannya, wilayah ini juga memiliki kerentanan terhadap bencana alam, terutama longsor saat intensitas hujan tinggi.

Keberadaan Kampung Lio hari ini tidak hanya menjadi potret kehidupan pedesaan, tetapi juga pengingat akan peran strategisnya di masa lalu. Warisan sejarah yang tersimpan di kawasan ini menjadi bagian penting dari perjalanan Sukabumi yang patut untuk terus dikenali dan dilestarikan.

(EGOL)