RAGAM BAHASA – Sebuah kursi kayu sederhana yang tersimpan di sebuah bangunan cagar budaya di kawasan Jalan Gamelan Kidul, Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, menyimpan kisah penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kursi yang kini ditutup kain putih itu diyakini pernah diduduki oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat menyamar dan bertemu para gerilyawan Republik Indonesia pada 1949.
Bangunan yang kini dikenal sebagai Graha Keris tersebut dulunya merupakan Rumah Makan Sate Puas. Tempat itu menjadi lokasi rahasia pertemuan antara Sultan dan para pejuang untuk menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda, termasuk rencana besar Serangan Umum 1 Maret 1949.
Pengelola Graha Keris, Taufik Hermawan, mengatakan kursi tersebut dipertahankan karena memiliki nilai sejarah yang sangat penting.
“Di tempat ini Sri Sultan HB IX duduk bersama para gerilyawan. Beliau menyamar sebagai rakyat biasa agar tidak dicurigai. Dari sinilah berbagai strategi perjuangan disusun,” ujar Taufik, Sabtu (18/4).
Menurutnya, pertemuan-pertemuan rahasia di warung sate itu menjadi bagian penting dalam lahirnya strategi “serangan enam jam” yang kemudian dikenal dunia sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.
Serangan tersebut menjadi bukti bahwa pemerintahan dan militer Republik Indonesia masih tetap berjalan meskipun saat itu Soekarno dan Mohammad Hatta ditangkap Belanda.
Dalam operasi itu, pasukan Indonesia berhasil menguasai Yogyakarta selama beberapa jam dan menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia belum runtuh.
Taufik menambahkan, bangunan bersejarah itu kini telah dibeli oleh dinas kebudayaan dari pihak ahli waris untuk dirawat sebagai cagar budaya.
Selain menjadi saksi penyusunan strategi perang, lokasi tersebut juga disebut sebagai tempat pengibaran bendera Merah Putih pertama pada 29 Juni 1949, menjelang berakhirnya pendudukan Belanda di Yogyakarta.
Secara arsitektur, kompleks Graha Keris masih mempertahankan bentuk rumah tradisional Jawa dengan atap limasan. Bangunan itu terdiri dari pendopo, dalem, gadri, serta gandok tengen dan gandok kiwa yang memperkuat nilai historis dan budaya tempat tersebut.
Kini, kursi sederhana yang pernah diduduki seorang raja pejuang itu menjadi simbol bahwa perjuangan kemerdekaan lahir dari keberanian, strategi, dan kebersamaan tanpa memandang status sosial.
(NOVAL)
