RAGAM BAHASA-Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang melanda wilayah Jakarta sejak awal Mei 2026. Kondisi ini mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari transportasi hingga kegiatan perkantoran, serta meningkatkan potensi banjir di sejumlah titik rawan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, termasuk peningkatan aktivitas konveksi dan kelembapan udara yang tinggi di wilayah Jabodetabek.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa intensitas hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
“Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan terjadi, terutama pada siang hingga malam hari. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir dan angin kencang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengatakan pihaknya telah menyiagakan personel dan peralatan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
“Kami sudah menyiapkan pompa air, perahu karet, serta personel di titik-titik rawan banjir. Warga juga diminta segera melapor jika terjadi genangan atau kondisi darurat,” katanya.

Di sisi lain, pengamat kebencanaan dari Universitas Indonesia, Budi Santoso, menilai bahwa cuaca ekstrem yang terjadi menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi.
“Perubahan iklim membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi. Edukasi kepada masyarakat serta penguatan infrastruktur drainase menjadi kunci untuk meminimalisir dampak,” jelasnya.

Akibat cuaca buruk tersebut, sejumlah ruas jalan di Jakarta dilaporkan mengalami genangan air yang menyebabkan kemacetan. Aktivitas warga, termasuk perjalanan menuju tempat kerja, turut terganggu.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini, menghindari wilayah rawan banjir, serta memastikan saluran air di lingkungan sekitar tetap bersih guna mengurangi risiko genangan.

(FIKRI)