RAGAM BAHASA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dilaksanakan di berbagai sekolah di Indonesia seiring dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027. Setelah sempat terhenti selama masa libur sekolah, program tersebut kembali menyasar para siswa dengan penekanan pada peningkatan kualitas asupan gizi.
Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada pembagian makanan, tetapi juga mengedepankan standar mutu mulai dari penyusunan menu, keamanan pangan, hingga proses distribusi kepada para penerima manfaat.
Wakil Kepala BGN, Trenggono, saat melakukan peninjauan ke sejumlah sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta Pusat, Senin (14/7/2026), mengatakan bahwa program ini diharapkan mampu memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, MBG harus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pangan daerah dengan memanfaatkan hasil pertanian lokal. Penggunaan buah-buahan lokal berkualitas serta bahan pangan yang dipasok pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk olahan pabrikan sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Selain memperluas manfaat ekonomi, BGN juga menaruh perhatian pada kualitas kandungan gizi dalam setiap menu yang disajikan. Salah satu aspek yang menjadi prioritas adalah ketersediaan protein hewani secara konsisten, termasuk daging, sebagai bagian dari menu harian siswa.
Trenggono menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan asupan gizi yang lengkap dan seimbang untuk menunjang proses tumbuh kembang, menjaga kesehatan, serta meningkatkan kemampuan belajar di sekolah. Oleh karena itu, penyediaan sumber protein hewani diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan bahan pangan di masing-masing daerah, tanpa mengabaikan standar keamanan pangan dan kecukupan gizi.
Untuk memastikan program berjalan optimal, BGN juga menginstruksikan pengelola SPPG beserta mitra pelaksana agar memperkuat pengawasan di lapangan. Pendampingan secara berkala, komunikasi yang intensif dengan pihak sekolah, serta penyerapan masukan dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga penerima manfaat lainnya dinilai penting sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis ke depan.
Dengan dimulainya kembali program ini, pemerintah berharap MBG tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan status gizi peserta didik, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi sektor pertanian, UMKM, dan rantai pasok pangan lokal di berbagai daerah.
(Egol)
