RAGAM BAHASA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui data dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Selasa, 1 September 2026 pukul 17.00 WIB, tercatat 127 orang meninggal dunia dan 1.668 lainnya mengalami luka-luka.

Bencana tersebut juga memaksa ratusan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Sebanyak 181.354 jiwa dilaporkan masih bertahan di sejumlah lokasi pengungsian akibat rumah dan lingkungan permukiman mereka terdampak gempa.

Kerusakan bangunan menjadi salah satu dampak terbesar dari gempa yang terjadi pada pertengahan Agustus tersebut. BNPB mencatat sedikitnya 97.215 unit rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang hingga berat.

Dari total tersebut, 27.294 rumah mengalami kerusakan berat. Kemudian sebanyak 22.137 rumah masuk kategori rusak sedang, sementara 47.784 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.

Dampak gempa juga meluas ke berbagai fasilitas pelayanan masyarakat. Ratusan bangunan sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah hingga kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan.

Data BNPB menunjukkan sebanyak 502 fasilitas pendidikan terdampak, disusul 157 fasilitas kesehatan, 506 rumah ibadah, serta 573 bangunan perkantoran.

Kerusakan turut terjadi pada infrastruktur umum. Sebanyak 88 fasilitas umum dan 43 jaringan irigasi dilaporkan terdampak. Selain itu, gempa juga merusak 157 titik ruas jalan serta 71 jembatan di sejumlah wilayah.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut terjadi pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada di wilayah laut di sekitar Kabupaten Nagekeo dan getarannya dirasakan cukup kuat di sejumlah daerah di NTT, bahkan hingga wilayah di luar provinsi.

Sejak hari pertama bencana, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan berbagai kementerian serta lembaga langsung mengerahkan sumber daya untuk menangani dampak gempa.

Penanganan darurat dilakukan melalui proses pencarian dan evakuasi warga, pemberian layanan medis, penyaluran kebutuhan dasar, hingga pembukaan kembali akses transportasi dan pemulihan jaringan listrik serta komunikasi.

Dalam mendukung kebutuhan warga terdampak, distribusi bantuan dalam jumlah besar terus dilakukan. BNPB mencatat pengiriman logistik melalui Bandara Halim Perdanakusuma sejak 15 Agustus hingga 1 September 2026 mencapai sekitar 1.997 ton.

Labuan Bajo menjadi wilayah dengan penerimaan bantuan terbesar, yakni mencapai 1.264 ton. Selanjutnya bantuan dikirim ke Maumere sebanyak 598 ton.

Distribusi juga menjangkau sejumlah daerah lain, di antaranya Manggarai Timur sebanyak 30 ton, Manggarai 25 ton, Nagekeo 20 ton, Sikka 18 ton, Ende 17 ton, Manggarai Barat 16 ton, serta Ngada sebanyak 8 ton.

Sementara itu, pembaruan data logistik menunjukkan sekitar 58 ton bantuan tambahan telah masuk melalui Bandara Halim Perdanakusuma. Dalam pergerakan terbaru, tercatat 37 ton barang bantuan masuk dan 22 ton lainnya telah diberangkatkan menuju wilayah terdampak.

Di tengah proses penanganan darurat yang masih berlangsung, pemerintah juga terus melakukan pendataan terhadap bangunan warga yang mengalami kerusakan. Proses verifikasi dan validasi dilakukan di tujuh kabupaten terdampak untuk memastikan kebutuhan penanganan dan rehabilitasi dapat dilakukan secara tepat.

BNPB turut melibatkan tim manajemen konstruksi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam proses pendampingan pendataan rumah rusak tersebut.

Pemerintah memastikan penanganan korban dan pemulihan wilayah terdampak akan terus dilakukan, mengingat besarnya dampak gempa yang tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan sejumlah fasilitas vital dan infrastruktur di kawasan terdampak.

(Egol)