Sukabumi – Hujan bagi sebagian orang mungkin hanya menjadi bagian dari pergantian musim. Namun bagi seorang janda di Kampung Selaawi Hilir, Desa Cibunarjaya, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, hujan justru datang bersama rasa cemas.
Di bawah atap kayu yang telah lapuk dan rapuh dimakan usia, ia masih bertahan menjalani hari. Rumah yang semestinya menjadi tempat paling aman untuk bernaung kini justru menghadirkan kekhawatiran setiap kali langit mulai gelap, hujan turun deras, atau angin berembus kencang.
Kayu-kayu penyangga atap yang mulai keropos seolah tak lagi mampu menjanjikan perlindungan. Kebocoran di sejumlah bagian membuat air hujan dapat masuk ke dalam rumah, sementara ancaman atap ambruk terus menghantui penghuni rumah tersebut.
Kondisi itu pun mengundang keprihatinan warga sekitar. Meri, salah seorang warga setempat, menyayangkan kondisi rumah tersebut yang dinilai sudah cukup lama membutuhkan perhatian.
Menurutnya, kondisi rumah itu semakin memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera, terlebih penghuni rumah merupakan seorang janda yang harus bertahan dengan kondisi tempat tinggal yang jauh dari kata layak.
“Miris banget, sudah lama tidak pernah diperbaiki oleh pemerintah setempat. Padahal kan itu sudah mau ambruk atapnya. Apabila hujan dan angin kencang, saya yakin akan ambruk,” ujar Meri kepada Kliksukabumi.com, Rabu (2/9/2026).

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Kondisi atap yang sudah lapuk membuat keselamatan penghuni menjadi taruhan ketika cuaca buruk datang.
Di tengah keterbatasan, rumah tersebut tetap menjadi tempat untuk pulang. Di sanalah kehidupan sehari-hari terus dijalani, meski rasa aman seakan harus dibayar dengan kecemasan yang datang setiap kali hujan mengguyur.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Ciambar, Heri, membenarkan adanya rumah tidak layak huni di Kampung Selaawi, Desa Cibunarjaya.
Pihak kecamatan telah meminta Pemerintah Desa Cibunarjaya untuk memastikan langsung kondisi rumah tersebut dan mengambil langkah yang diperlukan.
“Saya sudah perintahkan Kepala Desa Cibunarjaya untuk melihat kondisi rumah tersebut. Informasi yang disampaikan, rumah tersebut sudah diajukan melalui program BSPS akhir tahun hingga awal tahun 2027,” kata Heri.
Harapan kini tertuju pada proses pengajuan tersebut. Sebab bagi penghuni rumah, perbaikan tempat tinggal bukan sekadar persoalan memperbaiki atap atau mengganti kayu yang lapuk.
Lebih dari itu, sebuah rumah yang layak adalah tentang rasa aman. Tentang bisa tidur tanpa harus terbangun karena suara hujan yang menetes dari atap. Tentang tidak perlu menatap langit dengan cemas setiap kali angin kencang datang.
Dan di rumah sederhana di Kampung Selaawi Hilir itu, harapan tersebut masih menunggu untuk diwujudkan.
