Foto: Ilustrasi suara dentuman (Mental Floss)

RAGAM BAHASA – Warga di sejumlah daerah di Jawa Barat, Banten, hingga Lampung dilaporkan dikejutkan oleh suara dentuman disertai getaran yang terasa sejak malam hari. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi secara bersamaan.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan pihaknya tengah mencermati laporan masyarakat mengenai suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah tersebut.

Menurutnya, berdasarkan waktu kejadian dan hasil pemantauan aktivitas vulkanik, dentuman serta getaran tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan,” ujar Lana dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau diketahui berlangsung sejak Jumat malam sekitar pukul 23.07 WIB. Hingga Sabtu dini hari, aktivitas vulkanik gunung yang berada di Selat Sunda tersebut masih terus berlangsung dan suara gemuruh masih terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau di Pasauran.

Badan Geologi menjelaskan, erupsi yang terjadi saat ini memiliki karakter Strombolian. Aktivitas tersebut ditandai dengan lontaran material pijar, abu vulkanik, serta semburan lava berwarna merah yang terlihat secara terus-menerus.

Gunung Anak Krakatau sendiri telah berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Sejak saat itu, aktivitas erupsi Strombolian terus terjadi hingga awal September 2026.

Fenomena terbaru yang terjadi pada Jumat malam disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Semburan material pijar tampak memancarkan warna merah menyala dan menghasilkan aliran lava dari pusat erupsi.

Meski aktivitas vulkanik meningkat dan berlangsung cukup lama, Badan Geologi memastikan hingga saat ini belum terdapat indikasi potensi keruntuhan tubuh Gunung Anak Krakatau dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

Lana menjelaskan, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi besar pada 22 Desember 2018 masih memiliki ukuran yang relatif kecil.

Karena itu, berdasarkan evaluasi terkini, potensi keruntuhan besar yang dapat menimbulkan tsunami belum terdeteksi. Namun demikian, perubahan bentuk tubuh gunung dan perkembangan aktivitas vulkanik tetap berada dalam pemantauan intensif.

Badan Geologi juga meminta masyarakat untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Warga dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Sementara itu, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

Pemerintah meminta masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya serta tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah dan arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Berdasarkan laporan terbaru dari situs Magma Indonesia milik PVMBG, pengamatan dilakukan selama periode pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB pada Sabtu (5/9/2026).

Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan berawan hingga mendung dengan arah angin lemah sampai sedang menuju barat laut.

Dalam pengamatan visual, gunung terkadang terlihat jelas, namun pada waktu tertentu tertutup kabut dengan intensitas antara 0 hingga III. Asap dari kawah juga belum dapat diamati secara visual.

Pengamat Gunung Api, Rioboniek Situmorang, dalam laporan pemantauannya menyebut aktivitas erupsi terus berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga laporan pengamatan dibuat pada Sabtu pagi.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau hingga kini masih terus dipantau oleh PVMBG dan Badan Geologi untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan aktivitas maupun peningkatan status kegunungapian.

(Egol)