RAGAM BAHASA-Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2). Kabar tersebut pertama kali disampaikan Presiden AS, Donald Trump, sebelum kemudian dikonfirmasi media pemerintah Iran.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut operasi itu berhasil dilakukan berkat dukungan teknologi intelijen Israel yang mampu melacak lokasi Khamenei. Ia bahkan menyebut kematian pemimpin berusia 86 tahun itu sebagai “momen penting” dan menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih masa depan pemerintahan mereka.
Beberapa jam setelah pernyataan Trump, Kantor Berita Republik Islam (IRNA) memastikan bahwa Khamenei tewas di kantornya akibat serangan udara di siang hari. Sejumlah anggota keluarga dekatnya, termasuk putri dan menantu, dilaporkan turut menjadi korban. Selain itu, penasihat utamanya Ali Shamkhani dan Komandan Garda Revolusi Mohammed Pakpour juga disebut tewas.
Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi besar-besaran yang dilaporkan berlangsung selama 12 jam. Israel dan AS disebut melancarkan sekitar 900 serangan yang menyasar pangkalan militer, fasilitas nuklir, serta gedung pemerintahan di berbagai wilayah Iran, menggunakan jet tempur F-35, F-22, dan drone tempur.
Otoritas Iran segera meminta warga mengevakuasi Teheran, kota berpenduduk sekitar 10 juta jiwa. Bulan Sabit Merah Iran mencatat sedikitnya 201 orang meninggal dan lebih dari 700 lainnya mengalami luka-luka. Salah satu serangan bahkan dilaporkan menghantam sebuah sekolah di wilayah selatan, menimbulkan korban jiwa yang besar.
Situasi ini memicu eskalasi cepat di kawasan.
Iran dikabarkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi. Garda Revolusi Iran menyatakan akan melancarkan serangan paling keras terhadap Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Reuters melaporkan bahwa Trump memantau jalannya operasi dari resor pribadinya di Mar-a-Lago, Florida. Di sejumlah wilayah, saksi mata mengaku mendengar sorakan warga setelah kabar kematian Khamenei tersebar.
Serangan ini menjadi yang kedua sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden. Sebelumnya, pada Juni tahun lalu, AS juga menyerang fasilitas nuklir Iran. Ketegangan kali ini terjadi di tengah upaya diplomatik antara kedua negara terkait penghentian program nuklir Iran.
Seorang pejabat senior AS menyatakan bahwa langkah tersebut diambil berdasarkan indikasi ancaman serius terhadap pasukan Amerika. Menurutnya, tindakan militer dilakukan sebagai langkah pencegahan guna menghindari kerugian yang lebih besar apabila menunggu serangan lebih dulu.
Perkembangan terbaru ini menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran luas akan potensi konflik yang lebih besar di kawasan.
(REKSA)
