RAGAM BAHASA-Krisis kepemimpinan di Iran semakin dalam setelah beredar klaim di media sosial yang menyebut Pemimpin Tertinggi sementara, Alireza Arafi, tewas hanya beberapa jam setelah pengangkatannya. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi kabar tersebut.

Sebelumnya, otoritas politik dan keagamaan Iran menunjuk Arafi sebagai pemimpin tertinggi sementara menyusul laporan wafatnya Pemimpin Tertinggi lama, Ali Khamenei. Penunjukan itu disebut sebagai langkah cepat untuk menjaga stabilitas negara di tengah situasi genting.

Juru bicara Dewan Garda Revolusi Iran, Brigjen Hossein Rahimi, dalam pernyataan singkat di Teheran mengatakan pemerintah tengah melakukan verifikasi terhadap berbagai informasi yang beredar.

“Kami meminta masyarakat tidak terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Stabilitas nasional adalah prioritas utama,” ujarnya.

Sementara itu, analis politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Syarif, menilai jika kabar tersebut benar, maka Iran akan menghadapi fase transisi paling genting sejak Revolusi 1979.

“Jika benar terjadi kekosongan kepemimpinan dalam waktu sangat singkat, maka Dewan Ahli dan Garda Revolusi akan memainkan peran sentral untuk mencegah fragmentasi kekuasaan,” jelasnya.

Di sisi lain, seorang pengamat hubungan internasional dari Lembaga Kajian Strategis Global, Rina Mahardika, mengatakan dinamika ini berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan.

“Iran memiliki posisi strategis di Timur Tengah. Ketidakpastian kepemimpinan dapat berdampak pada hubungan diplomatik maupun kebijakan keamanan regional,” katanya.

Pantauan media lokal Iran menunjukkan peningkatan pengamanan di sejumlah titik penting di Teheran. Namun, aktivitas masyarakat dilaporkan masih berjalan relatif normal.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari kantor kepemimpinan tertinggi Iran terkait kondisi Ayatollah Arafi. Pemerintah mengimbau publik untuk menunggu pernyataan resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

(FIKRI)