RAGAM BAHASA-Sebuah kapal tanker yang terkait dengan China dilaporkan terpaksa putar balik setelah gagal menembus blokade yang diberlakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Blokade ini menyasar kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan pelabuhan Iran.
Kapal tanker bernama Rich Starry tersebut sebelumnya sempat keluar dari kawasan Teluk, namun akhirnya kembali mendekati perairan Iran setelah tidak berhasil melintas. Kapal itu diketahui masuk dalam daftar sanksi AS karena aktivitas bisnisnya yang melibatkan Iran.
Kebijakan blokade diumumkan oleh Presiden Donald Trump menyusul gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad pada akhir pekan lalu.
Dalam 24 jam pertama penerapan blokade, Komando Pusat AS menyatakan tidak ada satu pun kapal yang berhasil melewati jalur tersebut. Setidaknya enam kapal memilih mengikuti arahan militer AS untuk berbalik arah dan kembali ke pelabuhan asal di Iran.
Selain itu, sebuah kapal perusak AS juga dilaporkan menghentikan dua tanker minyak yang mencoba keluar dari pelabuhan Chabahar, yang terletak di kawasan Teluk Oman.
Rich Starry sendiri merupakan kapal tanker berukuran menengah yang membawa sekitar 250.000 barel metanol. Muatan tersebut diketahui berasal dari pelabuhan di Uni Emirat Arab, sebelum kapal tersebut berlabuh di dekat wilayah Iran.
Blokade ini menambah ketidakpastian di sektor pelayaran global, khususnya bagi perusahaan minyak dan asuransi risiko perang. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis dibandingkan kondisi normal yang biasanya mencapai lebih dari 130 kapal per hari.
Sejak kebijakan ini diberlakukan, belum ada tanker Iran yang berhasil mengekspor minyak mentah melalui selat tersebut. Padahal, sebagai anggota OPEC, Iran memiliki kapasitas penyimpanan minyak darat hingga sekitar 90 juta barel, yang diperkirakan mampu menopang produksi selama dua bulan jika ekspor terhenti.
Sementara itu, beberapa kapal lain masih mencoba melintas. Salah satunya kapal tanker berkapasitas besar yang menuju Irak untuk mengambil muatan minyak, serta kapal berbendera Malta yang berusaha kembali memasuki Teluk melalui Selat Hormuz dalam upaya kedua.
Situasi ini diperkirakan akan terus berdampak pada stabilitas pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
(ARDI)
