RAGAM BAHASA – Munculnya kasus hantavirus di kapal pesiar mewah MV Hondius pada awal Mei 2026 memicu perhatian publik internasional.
Dalam insiden yang terjadi saat pelayaran di Samudra Atlantik tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sejumlah penumpang lainnya mengalami kondisi kesehatan serius.
Meski kabar itu memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi penyebaran virus Hanta, para ahli menilai situasinya tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Virus ini disebut bukan penyakit baru dan pola penularannya berbeda jauh dibanding pandemi COVID-19.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, menjelaskan bahwa sebagian besar hantavirus berasal dari hewan pengerat, khususnya tikus. Menurutnya, kasus infeksi pada manusia relatif jarang ditemukan.
Ia menyebut setiap jenis tikus dapat membawa varian hantavirus yang berbeda. Dari banyaknya keluarga hantavirus yang ada, hanya Andes Virus yang sejauh ini diketahui mampu menular antar manusia melalui kontak erat.
Jenis virus tersebut diduga terkait dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Namun demikian, penularannya tetap dinilai tidak mudah dan sejauh ini paling banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan seperti Argentina dan Cile.
Dominicus menambahkan, wabah Andes Virus sebelumnya pernah terjadi di Argentina pada 2018 hingga 2019. Saat itu, beberapa orang yang awalnya tertular dari tikus kemudian menularkan virus kepada puluhan orang lain melalui kontak dekat. Sebagian kasus bahkan berujung kematian.
Mengenal Virus Hanta
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat atau rodents. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit serius, terutama bila terlambat ditangani.
Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus yang berasal dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering dan bercampur di udara, terutama di ruang tertutup. Dalam kasus tertentu, virus juga bisa masuk melalui luka terbuka pada kulit.
Dari lebih dari 40 jenis hantavirus yang telah dikenali, sekitar 22 di antaranya diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Beberapa jenis hantavirus yang paling dikenal antara lain:
Sin Nombre Virus, penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di Amerika Utara.
Andes Virus, yang banyak ditemukan di Argentina dan Cile.
Hantaan Virus, umum ditemukan di China dan Korea.
Seoul Virus, ditularkan melalui tikus cokelat.
Puumala Virus, penyebab gangguan ginjal ringan di Eropa.
Dobrava-Belgrade Virus, ditemukan di sebagian wilayah Eropa dan Asia.
Belum Ditemukan di Indonesia
Dominicus memastikan hingga kini Andes Virus belum pernah terdeteksi di Indonesia. Kasus hantavirus yang pernah ditemukan di Tanah Air disebut masih berasal dari penularan langsung antara tikus dan manusia.
Menurutnya, masyarakat Indonesia justru lebih sering menghadapi kasus Leptospirosis yang juga berkaitan dengan tikus, terutama saat musim banjir. Penyakit tersebut bahkan lebih umum ditemukan dibanding infeksi hantavirus.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan lingkungan, menghindari paparan kotoran tikus, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala serius setelah kontak dengan area yang diduga terkontaminasi hewan pengerat.
(EGOL)
