RAGAM BAHASA – Sejumlah wilayah di Kabupaten Pandeglang, Banten, mengalami penurunan suhu udara yang cukup terasa pada malam hingga dini hari dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat warga merasakan hawa dingin yang lebih menusuk dibandingkan biasanya.
Menanggapi fenomena tersebut, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Serang, Novi Haryanto, menjelaskan bahwa penurunan suhu merupakan fenomena yang umum terjadi saat musim kemarau. Hal itu dipengaruhi oleh dominasi Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia.
“Pada musim kemarau, kandungan uap air di atmosfer cenderung lebih sedikit sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara menjadi lebih rendah dan terasa lebih dingin,” ujar Novi, Jumat.
Ia menambahkan, kondisi langit yang cenderung cerah pada malam hari juga mempercepat proses pelepasan panas dari permukaan bumi sehingga suhu minimum dapat tercapai lebih cepat.
Menurutnya, fenomena ini bukan merupakan tanda adanya cuaca ekstrem ataupun gangguan atmosfer yang membahayakan, melainkan siklus musiman yang lazim terjadi setiap tahun ketika Indonesia memasuki puncak musim kemarau.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, untuk menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam maupun dini hari.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tetap memperhatikan potensi cuaca kering selama musim kemarau, seperti meningkatnya risiko kebakaran lahan dan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Dengan kondisi cuaca yang diperkirakan masih didominasi musim kemarau dalam beberapa waktu ke depan, BMKG meminta masyarakat terus mengikuti informasi prakiraan cuaca resmi agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer secara tepat.
(FIKRI)
