Sebanyak 150 personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). (Sumber: Istimewa)
RAGAM BAHASA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, masih belum berhasil dikendalikan sepenuhnya.
Hingga Rabu (5/8/2026), luas area yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 86 hektare, didominasi vegetasi kering yang mudah terbakar akibat musim kemarau.
Tim gabungan yang berjumlah sekitar 150 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran. Mereka berasal dari unsur TNI, Polri, Balai Besar TNBTS, serta relawan yang bekerja sama melakukan pemadaman dan membatasi penyebaran api di sejumlah titik.
Kondisi medan yang curam dan sulit dijangkau membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan menggunakan kendaraan pemadam kebakaran. Petugas terpaksa mengandalkan peralatan manual untuk menjangkau titik api yang berada di lereng dan kawasan perbukitan.
Berdasarkan informasi di lapangan, kebakaran pertama kali terpantau pada Senin (3/8/2026) sore di kawasan Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Seiring tiupan angin yang cukup kencang serta kondisi rumput dan semak yang mengering, kobaran api terus meluas hingga memasuki wilayah Kabupaten Probolinggo dan mengarah ke kawasan hutan di Kabupaten Malang.
Karakteristik wilayah berupa kaldera dan lereng Gunung Bromo menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Perubahan arah angin yang terjadi sewaktu-waktu menyebabkan api cepat berpindah ke vegetasi di sekitarnya sehingga upaya pengendalian harus dilakukan secara intensif.
Wakapolres Probolinggo, Kompol Yanuar Rizal, mengatakan seluruh personel gabungan masih fokus melakukan pemadaman sekaligus pelokalisasian agar kebakaran tidak menjalar ke area konservasi yang lebih luas.
Menurutnya, cuaca kering dan embusan angin menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya kebakaran baru di kawasan hutan.
Sementara itu, Balai Besar TNBTS masih memberlakukan penutupan sementara akses wisata Gunung Bromo melalui jalur Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro. Kebijakan tersebut diambil untuk mendukung proses penanganan kebakaran sekaligus menjaga keselamatan pengunjung.
Hingga kini, petugas masih terus melakukan pemadaman dan pemantauan di sejumlah lokasi.
Meski beberapa titik api telah berhasil dikendalikan, upaya pelokalisasian tetap dilakukan agar kobaran tidak meluas ke kawasan konservasi lainnya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
(Egol)
