Dari lingkungan keluarga yang penuh tantangan, Ustdh. Ninah Heriani, S.Pd. memilih pendidikan sebagai jalan hidup. Kini, sebagai Kepala SDIT Adzkia 2 Kota Sukabumi, ia mendorong budaya literasi hingga mengantarkan sekolah meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI).
SUKABUMI — Tidak semua orang dapat memilih dari keluarga mana ia dilahirkan. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk menentukan ke mana kehidupannya akan diarahkan.
Prinsip itulah yang menjadi bagian dari perjalanan hidup Ustdh. Ninah Heriani, S.Pd., Kepala SDIT Adzkia 2 Kota Sukabumi.
Ninah tumbuh dari keluarga dengan latar belakang kehidupan yang keras. Masa lalu tersebut tidak selalu mudah untuk dijalani. Namun, ia memilih untuk tidak membiarkan keadaan menentukan masa depannya.
Ia memilih pendidikan.
Pilihan itu kemudian membawanya menjadi seorang pendidik hingga dipercaya memimpin SDIT Adzkia 2 Kota Sukabumi.
Di bawah kepemimpinannya, Ninah tidak hanya fokus pada penguatan pembelajaran dan karakter peserta didik. Ia juga mendorong tumbuhnya budaya literasi di lingkungan sekolah.
Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah kegiatan besar dan mendapatkan apresiasi dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
Bagi Ninah, penghargaan tersebut bukan sekadar sebuah rekor. Lebih dari itu, MURI menjadi pengingat bahwa sebuah gagasan sederhana dapat menjadi gerakan besar ketika dilakukan secara bersama-sama.
Masa Lalu yang Menjadi Pelajaran
Ninah tidak menampik bahwa dirinya tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kehidupan yang keras.
Namun, ia memilih menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran.
“Saya tidak bisa memilih dari keluarga mana saya dilahirkan. Tetapi saya bisa memilih akan menjadi seperti apa saya di masa depan. Saya memilih pendidikan karena saya percaya pendidikan bisa mengubah kehidupan seseorang,”ujar Ninah.
Menurutnya, masa lalu bukanlah alasan untuk berhenti melangkah.
Justru dari pengalaman tersebut, ia belajar mengenai arti perjuangan, keteguhan, dan pentingnya memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berubah.
“Saya tidak ingin masa lalu menentukan siapa saya. Saya ingin pengalaman itu menjadi pelajaran agar saya bisa memberikan sesuatu yang lebih baik untuk anak-anak dan orang-orang di sekitar saya,” tuturnya.

Memimpin dengan Keyakinan
Menjadi kepala sekolah bagi Ninah bukan sekadar sebuah jabatan.
Di balik posisi tersebut terdapat tanggung jawab terhadap guru, peserta didik, orang tua, dan seluruh ekosistem sekolah.
“Kepala sekolah itu bukan tentang siapa yang paling tinggi posisinya. Bagi saya, kepala sekolah adalah amanah untuk membersamai guru dan anak-anak agar mereka bisa berkembang,” katanya.
Ia meyakini sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya mencetak anak-anak berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, kemandirian, dan kecintaan terhadap ilmu.
Prinsip itulah yang kemudian mendorongnya memperkuat berbagai program pengembangan peserta didik, salah satunya melalui literasi.
Ketika Literasi Menjadi Gerakan
Bagi Ninah, literasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Literasi harus menjadi budaya.
Anak-anak perlu memiliki kebiasaan membaca, kemampuan menyampaikan gagasan, keberanian menulis, serta kemampuan berpikir kritis.
“Saya ingin anak-anak membaca bukan karena diperintah guru. Saya ingin mereka membaca karena mereka menemukan sesuatu yang mereka sukai dari buku,” ujar Ninah.
Dari gagasan tersebut, berbagai kegiatan literasi kemudian dikembangkan di SDIT Adzkia 2.
Guru dan peserta didik dilibatkan secara aktif sehingga literasi tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah.
Menurut Ninah, perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan sederhana.
“Kita mungkin tidak langsung bisa mengubah dunia. Tetapi kita bisa mengubah kebiasaan satu anak. Ketika satu anak mulai suka membaca, kemudian ia menulis, berpikir, dan berbagi ilmu, di situlah perubahan mulai terjadi,” katanya.
Festival Literasi Nasional hingga MURI
Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan Festival Literasi Nasional.
Kegiatan itu menjadi momentum bagi warga sekolah untuk menunjukkan bahwa literasi dapat dikemas secara menarik, kolaboratif, dan melibatkan banyak pihak.
Gerakan tersebut kemudian mendapatkan apresiasi dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
Bagi SDIT Adzkia 2, penghargaan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan budaya literasi.
Namun Ninah tidak ingin penghargaan itu menjadi tujuan akhir.
“MURI tentu membanggakan. Tetapi saya selalu mengatakan kepada guru-guru, jangan sampai setelah mendapatkan penghargaan kita berhenti. Rekor itu hanya satu momentum. Yang harus terus hidup adalah budaya literasinya,” tegasnya.
Ia berharap anak-anak tidak hanya mengingat kegiatan besar yang pernah dilakukan, tetapi membawa kebiasaan membaca dan menulis tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Guru: Ustdh. Ninah Mampu Menggerakkan
Di mata guru-guru SDIT Adzkia 2, keberhasilan program literasi tidak terlepas dari kemampuan Ninah menggerakkan seluruh warga sekolah.
“Beliau bukan hanya punya ide. Ustdh. Ninah juga mau mengawal dan mengajak guru-guru untuk bergerak bersama. Kami merasa bahwa program ini bukan milik kepala sekolah saja, tetapi milik seluruh sekolah,” ujar salah seorang guru.
Guru lainnya mengatakan, Ninah dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menjalankan program, tetapi tetap memberikan ruang bagi guru untuk menyampaikan gagasan.
“Beliau tegas, tetapi kami tahu ada tujuan yang ingin dicapai. Kami diajak untuk berpikir bagaimana program itu memberikan dampak bagi anak-anak,” tuturnya.
Bagi para guru, keberhasilan meraih MURI bukan hanya prestasi kepala sekolah atau lembaga.
Prestasi tersebut merupakan hasil kerja bersama.
Suami: Perjalanan Itu Tidak Instan
Sang suami juga menjadi saksi perjalanan Ninah hingga berada di titik sekarang.
Ia melihat bagaimana istrinya menjalani berbagai proses, menghadapi tantangan, dan terus belajar.
“Saya melihat sendiri perjuangannya. Apa yang dicapai sekarang bukan sesuatu yang instan. Ada banyak proses, ada lelahnya, ada masalahnya. Tetapi beliau selalu berusaha menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya,” ujar sang suami.
Menurutnya, karakter kuat yang dimiliki Ninah terbentuk dari perjalanan hidup yang panjang.
Namun, ia menilai Ninah tidak menjadikan masa lalu sebagai beban.
Sebaliknya, pengalaman tersebut justru menjadi kekuatan untuk terus memberikan manfaat.
Bukan Tentang Dari Mana Kita Berasal
Kisah Ninah pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seseorang yang berasal dari keluarga dengan latar belakang kehidupan keras kemudian menjadi kepala sekolah.
Lebih dari itu, kisah tersebut adalah tentang pilihan.
Pilihan untuk berubah.
Pilihan untuk belajar.
Pilihan untuk mengabdi.
Dan pilihan untuk memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya agar memiliki kehidupan yang lebih baik.
“Saya ingin anak-anak tahu bahwa keadaan hari ini tidak menentukan siapa mereka di masa depan. Mereka punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, selama mau belajar dan terus berusaha,” pesan Ninah.
Hari ini, ia berdiri di tengah anak-anak yang sedang menulis cerita hidupnya masing-masing.
Ada yang sedang belajar membaca.
Ada yang mulai berani menulis.
Ada yang menemukan cita-cita.
Dan ada pula yang mungkin suatu hari akan menjadi pemimpin.
Di situlah Ninah menemukan makna terbesar dari perjalanan hidupnya.
Bukan pada jabatan.
Bukan pula pada penghargaan.
Tetapi pada kesempatan untuk ikut membentuk masa depan anak-anak.
“Kalau suatu hari nanti anak-anak kita tumbuh menjadi orang hebat dan bermanfaat, lalu mereka ingat bahwa di sekolah ini mereka belajar mencintai ilmu dan membaca, bagi saya itu adalah penghargaan yang paling besar,” ujarnya.
Dari masa lalu yang tidak selalu mudah, Ninah memilih pendidikan.
Dari pendidikan, ia memilih pengabdian.
Dan melalui literasi, ia ingin membuka lebih banyak pintu masa depan bagi anak-anak.
Sebab manusia mungkin tidak bisa memilih dari mana ia berasal. Tetapi manusia selalu bisa memilih ke mana ia akan melangkah.
