RAGAM BAHASA – MUI Serukan Salat Istisqa, Ajak Umat Muslim Berdoa agar Hujan Segera Turun

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam di berbagai daerah untuk melaksanakan salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan. Seruan tersebut disampaikan di tengah musim kemarau yang menyebabkan kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Wakil Ketua Umum MUI, KH Muhammad Cholil Nafis, mengatakan kondisi kekeringan yang berlangsung di sejumlah daerah membutuhkan perhatian dan ikhtiar bersama, baik melalui langkah-langkah penanganan di lapangan maupun pendekatan spiritual.

MUI pun mendorong masyarakat Muslim untuk memanjatkan doa dan melaksanakan salat Istisqa secara berjemaah.

“Kami mengajak umat Muslim untuk salat Istisqa’ atau meminta hujan,” ujar KH Muhammad Cholil Nafis dalam keterangan resminya, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, salat Istisqa merupakan bentuk penghambaan dan kepasrahan manusia kepada Allah SWT ketika menghadapi kondisi kekeringan yang berkepanjangan.

Ia menegaskan, ikhtiar spiritual tersebut bukan berarti menggantikan langkah-langkah penanganan yang dilakukan pemerintah dan berbagai pihak. Doa dan ibadah dapat berjalan beriringan dengan upaya teknis, seperti penanganan kebakaran hutan dan lahan serta distribusi bantuan air bersih kepada masyarakat.

Kiai Cholil juga berharap pengurus masjid, lembaga keagamaan, serta masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan dapat berkoordinasi untuk menggelar salat Istisqa secara bersama-sama.

Selain memohon turunnya hujan, kegiatan doa bersama dinilai dapat memberikan kekuatan moral dan spiritual bagi masyarakat yang tengah menghadapi dampak kemarau dan kebakaran hutan.

“Semoga segera turun hujan di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang sedang mengalami kemarau dan kebakaran,” katanya.

Musim kemarau tahun ini telah menimbulkan berbagai persoalan di sejumlah wilayah. Ketersediaan air bersih mulai berkurang, terutama di kawasan permukiman yang bergantung pada sumber air alami.

Di sisi lain, kondisi cuaca kering juga memicu munculnya titik-titik panas atau hotspot di kawasan hutan dan lahan. Kebakaran yang terjadi tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan akibat paparan asap.

MUI berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menghadapi kondisi tersebut melalui berbagai ikhtiar, baik secara nyata di lapangan maupun melalui doa agar hujan segera turun dan kondisi lingkungan kembali pulih.

(Egol)