Oleh : Dede Nuryana

Agustus memang aneh.

 

Belum juga tanggal 17, kampung-kampung sudah lebih dulu merdeka dari rasa malas.

 

Bambu ditebang. Gapura dicat. Lampu merah putih digantung seadanya. Umbul-umbul berdiri di pinggir jalan. Bendera berkibar hampir di setiap rumah.

 

Tak ada surat tugas.

 

Tak ada honor.

 

Tak ada target kinerja.

 

Hanya ada sekelompok orang yang sepulang kerja masih menyempatkan mengecat trotoar, memasang lampu, memaku bambu, lalu pulang dengan tangan penuh cat dan badan penuh peluh.

 

Mereka melakukannya setiap tahun.

 

Aneh, ya?

 

Di negeri yang katanya sedang sulit, rakyat masih rela mengeluarkan uang sendiri untuk membuat negaranya terlihat indah.

 

Barangkali karena cinta memang jarang pandai berhitung.

 

Saya selalu percaya, Indonesia tidak pernah kekurangan rakyat yang mencintai negerinya.

 

Yang kadang terasa langka adalah kalimat-kalimat yang mampu menjaga cinta itu tetap menyala.

 

Sebab rakyat bukan tidak mengerti.

 

Mereka tahu ketika rupiah melemah, harga-harga bisa ikut berubah. Mereka tahu ketika pajak bertambah, pengeluaran ikut membengkak. Mereka tahu bahwa setiap kebijakan pasti ada alasan. Tetapi rakyat juga ingin tahu bahwa di balik setiap alasan itu, ada empati.

 

Pemimpin memang tidak bisa menyenangkan semua orang.

 

Namun seorang pemimpin selalu punya pilihan: berbicara sekadar menjelaskan, atau berbicara untuk menenangkan.

 

Dua-duanya berbeda.

 

Yang satu selesai di telinga.

 

Yang satu lagi tinggal di hati.

 

Saya teringat gang kecil di kampung.

 

Lampu merah putih berkelap-kelip sederhana. Anak-anak berlari membawa bambu. Ibu-ibu sibuk membuat hiasan dari plastik bekas. Bapak-bapak berdebat soal posisi gapura sambil menyeruput kopi.

 

Tak ada yang bertanya siapa presidennya.

 

Tak ada yang bertanya partai apa yang menang.

 

Yang mereka tahu hanya satu.

 

Tanggal 17 Agustus harus meriah.

 

Karena bagi mereka, Indonesia lebih besar daripada politik.

 

Lebih panjang umurnya daripada masa jabatan.

 

Lebih mahal nilainya daripada perdebatan di media sosial.

 

Mungkin itu sebabnya saya selalu percaya bahwa negeri ini tidak akan pernah runtuh karena rakyatnya.

 

Rakyat sudah berkali-kali membuktikan kesetiaannya.

 

Yang masih terus diuji adalah apakah negara mampu membalas kesetiaan itu dengan kepekaan.

 

Sebab bendera bisa dibeli.

 

Umbul-umbul bisa dipasang.

 

Gapura bisa dicat ulang.

 

Tetapi harapan…

 

Harapan tidak pernah bisa dipaku di depan gang.

 

Ia tumbuh dari rasa didengar.

 

Ia hidup dari rasa dihargai.

 

Dan ia bertahan ketika rakyat merasa pemimpinnya berjalan bersama mereka, bukan sekadar berbicara di hadapan mereka.

 

Barangkali, itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.

 

Ketika rakyat tak hanya bangga mengibarkan Merah Putih.

 

Tetapi juga bangga karena merasa dipeluk oleh negerinya sendiri.