Sukabumi – Empat kawasan pantai di wilayah Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, masuk dalam kajian awal sebagai calon lokasi pengembangan Pasar Wisata. Rencana tersebut digagas untuk menghadirkan destinasi wisata terpadu yang menggabungkan sektor kuliner, kerajinan tangan, serta pertunjukan seni dan budaya dalam satu kawasan.
Keempat lokasi alternatif yang tengah dipertimbangkan meliputi Pantai Karang Hawu, Pantai Sukawayana, kawasan Pantai Istana Presiden, dan Pantai Gadobangkong. Masing-masing kawasan memiliki karakteristik dan potensi tersendiri yang akan menjadi bahan pertimbangan sebelum lokasi pembangunan ditetapkan.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menyambut positif gagasan pengembangan Pasar Wisata Palabuhanratu tersebut. Menurutnya, program ini berpeluang menjadi tambahan destinasi wisata baru sekaligus memperkuat daya tarik kawasan pesisir selatan Sukabumi.
“Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi menyambut baik dan menyetujui gagasan pengembangan Pasar Wisata Pelabuhan Ratu sebagai tambahan destinasi wisata baru di wilayah pesisir selatan Sukabumi,” ujar Ali, Sabtu (31/10/2026).
Ali menjelaskan, Pasar Wisata tidak dirancang hanya sebagai tempat perdagangan atau transaksi jual beli. Lebih dari itu, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi ruang terpadu yang mempertemukan berbagai subsektor ekonomi kreatif dengan potensi pariwisata daerah.
Melalui konsep tersebut, pengunjung nantinya tidak hanya menikmati keindahan panorama pantai Palabuhanratu, tetapi juga dapat mencicipi aneka kuliner khas, membeli produk kerajinan lokal, hingga menyaksikan pertunjukan seni dan budaya daerah.
“Program Pasar Wisata dirancang sebagai wadah pengembangan berbagai subsektor ekonomi kreatif, khususnya kuliner, kerajinan tangan, serta seni dan budaya. Ketiga sektor tersebut diharapkan dapat terintegrasi dalam satu kawasan wisata yang mampu menghadirkan pengalaman lebih lengkap bagi wisatawan,” jelasnya.
Meski menyambut baik rencana tersebut, Ali menegaskan bahwa penentuan lokasi pembangunan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Keempat kawasan yang diusulkan masih harus melalui proses studi kelayakan serta inventarisasi kondisi lapangan secara menyeluruh.
Menurutnya, setiap lokasi memiliki karakteristik, kondisi lingkungan, potensi, serta tantangan yang berbeda. Karena itu, diperlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan kawasan terpilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan Pasar Wisata.
“Dalam pembahasan awal, terdapat empat alternatif lokasi yang masuk kajian untuk pengembangan Pasar Wisata Pelabuhan Ratu. Meski demikian, keempat lokasi tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. Setiap lokasi memiliki karakteristik, kondisi, serta tantangan tersendiri yang perlu diidentifikasi sebelum ditetapkan sebagai lokasi pengembangan,” ungkapnya.
Digagas Yayasan Bale Budaya Bambu
Rencana pengembangan Pasar Wisata Palabuhanratu pertama kali dipaparkan oleh Yayasan Bale Budaya Bambu dalam sebuah forum diskusi bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi dan pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Pertemuan tersebut berlangsung di Hotel Bunga Ayu, Palabuhanratu, pada Rabu (28/10/2026). Forum itu menjadi ruang awal untuk membahas konsep, potensi, serta arah pengembangan kawasan Pasar Wisata sebagai destinasi baru di Kabupaten Sukabumi.
Sekretaris Jenderal Yayasan Bale Budaya Bambu, Dudi Darma Bakti, menyampaikan bahwa konsep yang ditawarkan mengedepankan kolaborasi berbagai sektor ekonomi kreatif. Selain kuliner, seni budaya, dan kerajinan, kawasan tersebut juga dirancang memiliki sejumlah titik swafoto dengan tampilan menarik atau Instagrammable.
“Terkait konsep dan keunggulan yang ditawarkan Pasar Wisata itu karena kita menyuguhkan paket ekonomi kreatif yang komprehensif antara kuliner, seni budaya, dan kerajinan, serta spot-spot yang Instagramable, di mana keempat elemen ini merupakan daya tarik bagi masyarakat umum,” kata Dudi.
Tidak hanya menghadirkan aktivitas ekonomi kreatif, pembangunan fasilitas dan infrastruktur Pasar Wisata juga direncanakan mengusung konsep arsitektur alami dengan bambu sebagai material utama.
Pemanfaatan bambu diharapkan mampu menciptakan karakter bangunan yang khas sekaligus memberikan identitas visual bagi kawasan tersebut. Dengan demikian, Pasar Wisata tidak hanya menjadi tempat aktivitas ekonomi dan rekreasi, tetapi juga memiliki daya tarik arsitektural tersendiri.
Dudi berharap konsep arsitektur berbahan bambu tersebut dapat berkembang menjadi ikon baru pariwisata Kabupaten Sukabumi, bahkan menjadi salah satu identitas destinasi wisata di Jawa Barat.
“Untuk kesiapan sarana dan prasarana itu akan dirancang sealami mungkin dengan material yang alam, dalam hal ini bambu, sehingga itu akan menjadi satu ikon yang tersendiri bagi wilayah Sukabumi khususnya dan Jawa Barat pada umumnya,” pungkasnya.
