RAGAM BAHASA – Hujan dengan curah tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi kembali menimbulkan dampak serius. Kali ini, Jembatan Linggamanik yang berada di jalur penghubung Bojongjengkol–Miramontana, Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, dilaporkan runtuh pada Minggu malam (19/04/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Ambruknya jembatan tersebut menyebabkan aktivitas warga lumpuh total. Jalur yang selama ini menjadi penghubung utama antara Kampung Linggamanik dengan Kampung Tipar serta wilayah Miramontana kini tidak dapat dilalui, bahkan oleh kendaraan roda dua sekalipun.

Salah seorang warga, Udin (56), mengungkapkan bahwa sebelum kejadian terdengar suara keras di tengah derasnya hujan. Ia menyebut debit air Sungai Cikurutug meningkat drastis hingga meluap dan menghantam struktur jembatan.

“Air sungai naik tinggi sekali, arusnya deras. Tiba-tiba ada suara keras seperti patahan. Setelah dicek, jembatannya sudah tidak ada, terbawa arus,” ujarnya.

Warga setempat menyebut kondisi jembatan sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sejak lama. Retakan pada bagian struktur telah terlihat sejak beberapa waktu lalu, namun tetap digunakan karena tidak ada akses alternatif.

“Kondisinya memang sudah lama mengkhawatirkan, tapi tetap dipakai karena ini satu-satunya jalur utama. Sekarang benar-benar terputus,” tambahnya.

Di sisi lain, muncul dugaan dari warga terkait kualitas konstruksi jembatan. Sandi (45), yang turut meninjau lokasi, menilai struktur bangunan diduga tidak cukup kuat menahan tekanan air saat banjir.
“Kalau dilihat dari sisa pondasi, tulangan besinya terlihat kecil dan kualitas corannya kurang maksimal. Saat debit air tinggi, pondasi langsung terkikis,” katanya.

Selain jembatan yang ambruk, cuaca ekstrem juga memicu sejumlah bencana lain di wilayah Jampangtengah, seperti longsor dan pergerakan tanah di beberapa titik. Kondisi ini membuat warga semakin waspada terhadap potensi bencana susulan.

Masyarakat Desa Nangerang berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan cepat, terutama dengan membangun jembatan darurat agar aktivitas warga, termasuk kegiatan ekonomi dan akses pendidikan, dapat kembali berjalan meski dalam kondisi terbatas.

(EGOL)