SUKABUMI — Di tengah derasnya arus digital, pola pengasuhan anak kembali jadi perbincangan. Media sosial dipenuhi potongan-potongan cara mendidik anak—dari figur publik hingga influencer, termasuk Nikita Willy yang kerap membagikan keseharian pengasuhan anaknya. Sebagian disambut kagum, sebagian lain diperdebatkan.
Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita sedang membesarkan anak-anak yang kuat, atau sekadar anak-anak yang nyaman?
Kita hidup di zaman yang berbeda jauh dari satu dekade lalu. Dunia anak hari ini adalah dunia yang serba cepat, serba instan, dan nyaris tanpa jeda. Apa yang diinginkan, bisa didapat dalam hitungan detik. Rasa bosan diatasi dengan satu sentuhan layar. Tangis bisa diredam dengan distraksi digital.
Tanpa disadari, pola ini membentuk karakter.
Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang minim gesekan. Padahal, justru dari gesekanlah daya tahan terbentuk. Ketika semua dipermudah, kemampuan dasar seperti menahan keinginan, memahami emosi, hingga membaca situasi perlahan tergerus.
Di sinilah persoalan mulai terlihat.
Banyak orang tua hari ini fokus pada bagaimana membuat anak merasa senang, tetapi lupa mengajarkan bagaimana anak menghadapi rasa tidak nyaman. Padahal, kehidupan di luar rumah tidak selalu ramah.
Sekolah, pergaulan, bahkan dunia kerja di masa depan menuntut lebih dari sekadar kecerdasan akademik. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola emosi, memahami batas, serta kesadaran terhadap diri dan lingkungan.
Kesadaran inilah yang sering luput.
Sadar posisi. Sadar situasi. Sadar keadaan.
Tiga hal sederhana, tetapi menjadi pembeda antara individu yang matang dan yang mudah goyah. Anak yang terbiasa memahami konteks akan lebih mampu menempatkan diri. Ia tidak mudah tersulut emosi, tidak reaktif, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Sebaliknya, tanpa itu, anak cenderung impulsif bereaksi cepat tanpa pertimbangan. Fenomena ini kian terasa, terutama di ruang digital, di mana ekspresi sering kali muncul tanpa filter.
Lalu, di mana peran parenting?
Parenting hari ini bukan lagi soal metode siapa yang paling modern atau siapa yang paling viral. Bukan pula tentang siapa yang paling “benar”. Lebih dari itu, parenting adalah tentang membangun fondasi karakter yang tahan uji zaman.
Anak perlu dikenalkan pada emosinya, bukan sekadar ditenangkan. Ia perlu belajar menunggu, bukan selalu dipenuhi. Ia juga perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Tentu, ini bukan berarti kembali pada pola lama yang keras dan kaku. Dunia sudah berubah. Anak-anak membutuhkan pendekatan yang hangat, tetapi tetap tegas. Dekat, tetapi tidak kehilangan batas.
Keseimbangan ini yang menjadi tantangan.
Di tengah banjir informasi, orang tua kerap terjebak pada standar-standar yang terlihat ideal di layar, tetapi belum tentu relevan dengan realitas masing-masing keluarga. Padahal, tidak ada satu formula tunggal dalam membesarkan anak.
Yang ada adalah prinsip.
Bahwa anak bukan hanya perlu dibahagiakan, tetapi juga dipersiapkan. Bukan hanya dilindungi, tetapi juga dilatih menghadapi dunia.
Dan mungkin, di tengah semua hiruk pikuk metode parenting yang berseliweran hari ini, kita perlu kembali pada pertanyaan paling sederhana:
Apakah anak kita sedang tumbuh menjadi pribadi yang sadar, atau hanya sekadar pribadi yang nyaman?
Sebab pada akhirnya, dunia tidak selalu memberi ruang aman. Dan tugas pengasuhan bukanlah menghilangkan semua tantangan, melainkan memastikan anak siap menghadapinya.
(omo)
