Sukabumi – Para petani di Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, menyambut positif pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI). Program tersebut diwujudkan melalui peningkatan jaringan irigasi Daerah Irigasi Sukatani yang dikerjakan secara swakelola oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Garda Padi.

Peningkatan jaringan irigasi tersebut mendapatkan dukungan anggaran sebesar Rp195 juta yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Berdasarkan informasi pada papan kegiatan, program berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan SDA Citarum.

Pekerjaan dilaksanakan oleh P3A Garda Padi Desa Sukamukti dengan masa pelaksanaan selama 45 hari kalender. Pola swakelola membuat para petani terlibat secara langsung dalam proses pembangunan jaringan irigasi yang nantinya juga mereka manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air persawahan.

Salah seorang petani setempat, Yogi, 35 tahun, mengatakan keberadaan program tersebut sangat membantu masyarakat, terutama para petani yang menggantungkan aktivitas pertanian pada ketersediaan jaringan irigasi.

Menurut Yogi, keterlibatan petani dalam pengerjaan menjadi salah satu kelebihan program tersebut. Para petani yang mengerjakan pembangunan dinilai lebih memahami kondisi serta kebutuhan jaringan irigasi yang diperlukan untuk mengairi lahan persawahan mereka.

Ia berharap hasil pembangunan tersebut memiliki kualitas yang baik dan mampu digunakan dalam jangka panjang. Sebab, selain menjadi pelaksana, para petani juga akan menjadi pihak yang menggunakan sekaligus merawat jaringan irigasi tersebut.

Sementara itu, Ketua P3A Garda Padi, Agus Salim, menjelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan di lapangan bahkan menghasilkan pekerjaan yang melebihi target awal. Dari rencana pembangunan jaringan sepanjang sekitar 433 meter, realisasinya mencapai kurang lebih 486 meter.

Penambahan panjang jaringan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan yang ditemukan selama proses pengerjaan. Para petani memilih memaksimalkan program agar manfaat jaringan irigasi dapat dirasakan oleh area persawahan yang lebih luas.

Agus menegaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut tidak berorientasi pada keuntungan bagi kelompok petani. Menurutnya, tujuan utama pembangunan adalah memastikan kebutuhan air bagi persawahan masyarakat dapat terpenuhi.

Selain meningkatkan jaringan irigasi, para petani juga membangun bendung tambahan untuk membantu mengatur aliran air. Bangunan tersebut memiliki panjang sekitar 6 meter, tinggi 2 meter, ketebalan bagian atas sekitar 40 sentimeter dan bagian bawah mencapai sekitar 80 sentimeter.

Agus juga membantah adanya informasi mengenai pemotongan anggaran dalam pelaksanaan Program P3-TGAI tersebut. Ia menyebut adanya pekerjaan tambahan di lapangan justru menjadi salah satu bukti bahwa pelaksanaan program dimaksimalkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, terdapat sejumlah pekerjaan tambahan yang tidak tercantum dalam petunjuk teknis awal, termasuk pembangunan lantai antisedimentasi pada bagian ujung curugan akhir pekerjaan.

Berdasarkan monitoring dan evaluasi yang dilakukan, realisasi pekerjaan diketahui lebih panjang sekitar 50 meter dibandingkan target awal. Penambahan tersebut dilakukan karena dinilai sesuai dengan kebutuhan teknis di lapangan.

Agus menjelaskan bahwa bendung tambahan memang tidak tercantum dalam petunjuk teknis awal. Namun, berdasarkan kondisi yang ditemukan selama pelaksanaan, bangunan tersebut dinilai penting untuk membantu mengatur sekaligus memasok air menuju jaringan irigasi.

Dengan peningkatan jaringan tersebut, pasokan air diharapkan dapat menjangkau lahan persawahan sekitar 30 hektare di Desa Sukamukti. Program ini dinilai tidak hanya memberikan manfaat dalam bentuk perbaikan infrastruktur pertanian, tetapi juga memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat melalui pola padat karya.

Keberadaan pekerjaan tersebut dinilai cukup membantu masyarakat, terutama ketika musim kemarau tiba. Pada kondisi tersebut, sebagian petani mengalami keterbatasan air sehingga tidak dapat menjalankan aktivitas pertanian secara maksimal.

Melalui pekerjaan padat karya, masyarakat tetap memperoleh kesempatan mendapatkan penghasilan ketika aktivitas di sawah mengalami keterbatasan akibat minimnya pasokan air.

Agus menyampaikan bahwa pekerjaan peningkatan jaringan irigasi tersebut kini telah mencapai 100 persen. Setelah pekerjaan selesai, masih terdapat material berupa batu dan sekitar 30 zak semen.

Material yang tersisa tersebut kemudian tidak dibiarkan begitu saja. P3A Garda Padi memilih mendonasikannya untuk mendukung kegiatan masyarakat, di antaranya penambalan jalan serta pembangunan dan pemeliharaan fasilitas majelis taklim di lingkungan setempat.

Para petani berharap Program P3-TGAI dapat terus dilanjutkan dan menjangkau jaringan irigasi lainnya yang masih membutuhkan peningkatan maupun perbaikan.

Mereka juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, atas dukungan terhadap pembangunan jaringan irigasi tersebut.

Program tersebut diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi petani, meningkatkan ketersediaan air untuk persawahan, mendukung produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di wilayah Kabupaten Sukabumi.